Black Campaign Dinilai Cara Pengecut Petarung Politik

Nusa Tenggara Barat, Bekanews.com - Kampanye hitam dalam konstestasi Pilkada, merupakan bentuk strategi politik yang bertujuan untuk mendelegitimasi lawan politiknya dengan cara tidak fair dan barbar.
Strategi black campaign senantiasa memanfaatkan momentum politik yang sengaja dipakai untuk menjegal kandidat untuk memberikan kesan citra buruk dihadapan publik, yang pada akhirnya memengaruhi persepsi publik.
Terakhir, kampanye hitam ini dijadikan alat untuk menekan secara psikologis dan politik para  kandidat yang memiliki masa lalu yang buruk dan terbongkar oleh lawan politiknya. Rangkaian strategi kampanye hitam dalam ruang politik, dinilai sebagai cara pengecut petarung politik yang tidak siap berkompetisi secara gentlemen.
Demikianlah disampaikan Mi6 melalui siaran persnya, baru-baru ini. Direktur Mi6, Bambang Mei Finarwanto SH mengatakan, yang menjadi problem krusial para politisi atau calon Pemimpin Daerah yang akan tampil dalam Pilkada, adalah rekam jejak masa lalunya yang kerap disimpan atau sengaja disembunyikan agar tidak diketahui oleh publik.
"Problem utama politisi atau kandidat saat ini, bukan masa depannya, tetapi masa lalunya yang buruk itu yang kerap dijadikan alasan pembenar," sambung Didu, panggilan akrab direktur Mi6.
Didu mengemukakan, kampanye hitam biasanya dilakukan secara sistematis, dengan target melakukan demoralisasi terhadap lawan politiknya, sampai tidak berdaya di hadapan konstituennya.
"Serangan kampanye hitam yang dilakukan, biasanya memakai sejumlah perangkat yg dipublikasikan atau melalui selebaran yang tidak jelas sumbernya. Kampanye hitam selain mempermalukan lawan politik, juga sebagai alat melakukan bargaining dan menyandera kepentingan lawan politiknya,’’ paparnya. (du/ din)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Black Campaign Dinilai Cara Pengecut Petarung Politik"

Post a Comment