Menolak Lelah untuk Bumikan Sastra di Lereng Muria

Kudus, Bekanews.com – Cuaca Jumat siang (27/10/2017) sangat panas. Keringat membasahi kulit. Kipas angin yang dinyalakan, bahkan seakan tak mampu memberikan sedikit kesejukan di lantai III ruang pertemuan SMA Negeri 1 Mejobo, Kudus.
Namun cuaca panas itu, tak mampu menahan komitmen para sastrawan dan seniman Lereng Muria, untuk berbagi ilmu mengenai kepenulisan, khususnya puisi, kepada ratusan peserta didik di salah satu SMA negeri yang berada di Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, itu.
Di siang dengan terik matahari yang menyengat, Saliem Sabendino (Kudus), Asy’ari Muhammad (Jepara), Aloeth Pati, Arif Khilwa, Imam Bucah dan Ocheng (Pati), hadir di tengah-tengah ratusan siswa memberikan semangat kepada para siswa itu.
Jauh jarak yang ditempuh, tidak menjadi kendala untuk datang. Lelah pun ditolak, demi menjaga konsistensi merawat sastra di Lereng Muria, yang juga dimotori oleh salah satu sastrawan kenamaan di Kota Kretek: Asa Jatmiko.
Kehadiran para sastrawan dan seniman itu pun, memberikan ‘nutrisi’ tersendiri kepada para guru dan siswa, untuk mencintai karya sastra, khususnya puisi. Itu ditandai dengan semangatnya para siswa dan guru, membacakan puisi karya para sastrawan nasional, dan juga karya-karya para ‘mentor’ yang hadir dalam kesempatan itu.
Saliem Sabendino, salah satu mentor, mengatakan, lawatan sastra di SMA Negeri 1 Mejobo, ini sudah menjadi rutinitas yang banyak digelar di berbagai sekolah (madrasah), baik di Kudus, Pati, maupun Jepara.
‘’Untuk kesempatan ini, di SMA Negeri 1 Mejobo, sekaligus memperingati lima tahun berdirinya ekstrakurikuler jurnalistik OASIS,’’ ujar Saliem Sabendino saat ditemui bekanews.com di sela-sela acara.
Kehadirannya bersama tim, ini sekaligus untuk berdikusi dan membumikan sastra di kalangan pelajar, sekaligus sebagai upaya mendorong peserta didik untuk tidak sekadar menjadi penikmat karya sastra. ‘’Melalui forum ini, kami juga memotivasi para siswa untuk menulis karya sastra, lebih khusus puisi,’’ tegasnya.
Imam Bucah, mengutarakan, bahwa kegiatan ini memberi ruang untuk mengingatkan pentingnya sastra kepada para pelajar. ‘‘Banyak sekali perubahan-perubahan besar di dunia diawali dari karya sastra,’’ katanya.
Sebagaimana Saliem Sabendino, Imam Bucah juga berharap agar para siswa juga ambil bagian dalam perkembangan sastra nasional. ‘’Menulislah, dan buat perubahan besar bagi masyarakat dan negeri ini,’’ tandasnya. (ira)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Menolak Lelah untuk Bumikan Sastra di Lereng Muria "

Post a Comment