‘’Mahasiswa’’ Sepanjang Hayat

Uthlubu all‘ilm min al-mahdi ila al-lahdi. Tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga liang lahat. Rasanya kalimat ini tidaklah asing dengan umat Islam. Sebuah anjuran, bahwa menuntut ilmu itu (mestinya) tiada pernah berakhir, atau selama hayat masih di kandung badan.
Ajaran dan anjuran Islam agar umatnya senantiasa mencari ilmu selama masih hidup, ini pun sejalan dengan konsep pendidikan yang dikenal oleh masyarakat luas dengan long life education.
Namun ini sedikit berbeda. Yakni ada salah satu kiai muda di Kabupaten Kudus, yang, meskipun saat ini sudah tidak mahasiswa, namun Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang dimilikinya, hingga kini, masih tercatat sebagai ‘Mahasiswa’.
Secara berkelakar atau dengan nada canda (guyonan), H. Ahmad Faiz, kiai muda yang kini memimpin Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’an Menawan, Kudus, itu pun sedikit berkisah di hadapan teman-temannya, suatu malam.
Dia mengurus pembuatan KTP Elektronik, saat liburan, di penghujung studi doktoralnya di Konya University, Turki, beberapa tahun lalu. Karena masih mahasiswa, maka oleh pertugas kolom pekerjaan pun dicatat: mahasiswa.
Praktis, status sebagai mahasiswa pun akan disandangnya, karena KTP Elektronik masa berlakunya seumur hidup. Dengan kata lain, dia pun bisa disebut ‘’mahasiswa abadi’’ atau ‘’menjadi mahasiswa’’ sepanjang hayat.
‘’Jadi selamanya saya akan tercatat sebagai mahasiswa, kalau KTP tidak saya rubah. Khan KTP Elektronik ini berlaku seumur hidup,’’ candanya. Teman-temannya pun tersenyum mendengar kisahnya itu. (*)

Rosidi,
Koordinator Gubug Literasi Tansaro dan staf Humas Universitas Muria Kudus (UMK) 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "‘’Mahasiswa’’ Sepanjang Hayat"

Post a Comment