Penelitian Japelidi Libatkan 56 Akademisi dari 26 Perguruan Tinggi

Soraya Fadhal (dua dari kiri) saat memaparkan temuan penelitian Japelidi.
Semarang, Bekanews.com - Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi) melakukan penelitian terkait media digital dalam kurun 2010 hingga awal September 2017, dengan fokus pada pelaku, ragam, kelompok sasaran, dan mitra.
Setidaknya ada 342 kegiatan yang telah dilakukan, dengan melibatkan 56 peneliti dari 28 prgram studi yang berasal dari 26  perguruan tinggi di sembilan kota di Indonesia, yakni Yogyakarta, Salatiga, Semarang, Surakarta, Malang, Bandung, Banjarmasin, Denpasar/ Bali dan Jakarta. 
Ada beberapa temuan utama yang dihasilkan dalam penelitian ini. Pertama, dilihat dari pelaku gerakan literasi media di sembilan kota Indonesia, perguruan tinggi (56,14%) adalah pelaku utama yang disusul dengan pemerintah (14,34%), komunitas (13,52%), lembaga swadaya masyarakat (5,32%), sekolah dan korporasi masing-masing 3,68%, lain-lain (asosiasi profesi dan ormas) sebesar 2,86% dan media (0,4%).
‘’Tingginya perguruan tinggi sebagai pelaku beragam kegiatan literasi digital, antara lain disebabkan tingginya program literasi digital sebagai bagian dari kegiatan pengabdian masyarakat, yang merupakan salah satu pilar Tri Darma perguruan tinggi. Maka bisa dikatakan, perguruan tinggi merupakan motor gerakan literasi digital,’’ ujar koordinator penelitian Japelidi, Novi Kurnia.
Kedua, dilihat dari ragam kegiatan, sosialiasi atau ceramah (29,64%) adalah kegiatan literasi digital yang paling sering dilakukan yang diikuti dengan workshop atau pelatihan (20,9%), seminar atau diskusi (14,32%), penelitian (11,33%), talkshow (11,08%), publikasi (4,78%), kampanye dan advokasi (4,28%), lain-lain (kompetisi dan pendampingan dan pembentukan unit anti hoaks) sebesar 2,01% dan kurikulum (1,51%).
Ketiga, dilihat dari kelompok sasaran, remaja dan pelajar (29,55%) merupakan sasaran utama kegiatan literasi digital. Ini dikarenakan kaum muda dianggap sebagai kelompok yang paling rentan dan dianggap paling banyak mendapatkan pengaruh buruk dari media digital. Atau sebaliknya, mereka dianggap sebagai agen perubahan yang diharapkan bisa turut ambil bagian dalam mengatasi berbagai persoalan masyarakat digital.
‘’Selain kaum muda, kelompok sasaran untuk gerakan literasi digital adalah mahasiswa (18,5%), masyarakat umum (15,22%), orangtua (12,23%), guru dan dosen (10,14%), lain-lain (ormas, lsm, pemerintah, media) sebesar 6,86%, dan peneliti (0,29%),’’ lanjutnya menambahkan.
Keempat, selama ini kegiatan literasi digital cenderung terkotak, kurang sinergi, baik antara pelaku gerakan literasi digital baik institusi perguruan tinggi, pemerintah, sekolah, komunitas maupun organisasi lainnya. Kendati begitu, sebagian kecil kegiatan literasi digital sudah dilakukan dalam program kolaborasi antarpelaku.
‘’Mitra terbanyak dalam melakukan kegiatan literasi digital adalah sekolah (32.07%), pemerintah (18,86%), komunitas (11,94%), media (8,8%), LSM (8,18%), perguruan tinggi (7,54%), korporasi (6,91%), lain-lain (bimbingan belajar, organisasi massa) sebesar 3,77% dan korporasi dan organisasi profesi (1.88%). Sekolah menjadi mitra yang paling banyak diajak melakukan gerakan literasi digital, karena kelompok sasaran yang paling dominan adalah remaja dan pelajar,’’ tuturnya.
Novi Kurnia yang juga ketua Program Studi S2 Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UGM, mengutarakan, temuan dalam penelitian Japelidi itu, merupakan data luar biasa. ‘’Hasil penelitian Japelidi ini bisa digunakan sebagai panduan melakukan gerakan literasi digital, sehingga warga bisa lebih melek media digital,’’ katanya. (ira)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Penelitian Japelidi Libatkan 56 Akademisi dari 26 Perguruan Tinggi "

Post a Comment