Melawan Radikalisme

Winarto

Tema radikalisme telah menjadi isu internasional. Bahkan beberapa pihak menduga, radikalisme menjadi pemicu berbagai konflik di timur tengah. Dampaknya, terasa hingga di tanah air. Perbincangan soal radikalisme di Indonesia sudah terjadi dalam jangka waktu yang relatif lama hingga sekarang.
Namun sampai hari ini, tema tersebut masih menjadi perhatian banyak kalangan, termasuk pemerintah Indonesia. Pemerintah tentu tak ingin radikalisme meluas, sehingga menghambat pembangunan serta menjadi ancaman persatuan Indonesia.
Salah satu respon pemerintah yang sangat penulis apriasiasi adalah menumbuhkan kembali kegiatan diskusi dan tabayun. Salah satunya adalah diskusi yang telah terlaksana pada Sabtu (8/7/2017). Kominfo menyelenggarakan diskusi dengan tema "Bijak Bermedia Sosial" bersama perwakilan mahasiswa se-Solo Raya.
Acara yang bekerja sama dengan stasion tv swasta TATV Solo ini, sesi pertama membahas fenomena hoax yang makin menggila dewasa ini. Siapa oknum yang menyebarkan dan bagaimana cara bijak menyikapi hoax. Narasumber memaparkan dari berbagai sudut pandang, mulai dari MUI, Polhukam, Kominfo hingga Blogger.
Bagi penulis, sesi kedua yang menarik. Bertempat di the Royal Hotel Solo, sesi kedua membahas tentang radikalisme dan penyebarannya. Mengutip publikasi hasil penelitian the Wahid Institute, bahwa penyebaran radikalisme sudah merambah pada dunia pendidikan.
Bila penelitian ini benar, menurut saya, maka ini menjadi cermin bagi kita semua untuk waspada dan hati hati. Pemikiran hendaknya dilawan/dihadapi dengan pemikiran pula. Melalui diskusi indah dan santai.
Dalam suasana bersahabat sebagai sama-sama anak bangsa. Tidak bisa dihadapi dengan ancaman, tekanan apalagi kekerasan. Kecuali bila sudah jelas mengarah pada tindakan anarkis.
Diperlukan tindakan tegas sebagai bentuk perlindungan dan keamanan masyarakat. Menghadapi pemikiran dengan cara kasar, justru akan memicu dan menumbuhkan kebencian terhadap pemerintah. Menurut penulis, ini berbahaya dan tidak tepat karena pemikiran bersifat tak nampak. Terlalu sulit untuk mengidentifikasi secara mutlak.
Cara berikutnya adalah memantapkan ideologi negara secara struktur dan terorganisir. Yakni, menengok kembali kurikulum lembaga pendidikan yang ada. Mulai dari SD hingga PT. Masih adakah di sana kurikulum yang mengejawantahkan empat pilar kebangsaan Indonesia; Pancasila, UUD 45, NKRI dan Bineka Tunggal Ika.
Hal pokok yang diperhatikan juga, semua pihak hendaknya memahami bahwa radikalisme sifatnya universal, tidak mengarah pada agama atau suku tertentu. Sebagaimana pengertian radikalisme itu sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, yakni sebuah paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan dan drastis.
Jadi mengalamatkan radikalisme pada agama tertentu merupakan kesalahan fatal cara berfikir. Umat Islam sebagai mayoritas penduduk Indonesia, sering dikaitkan dalam hal ini. Penulis meyakini, cara pandang sempit dan berbagai macam pemikiran yang melenceng dari mayoritas ulama, lambat laun pasti akan mati.
Sempalan sempalan kecil tersebut akan hilang. Hal ini karena, sepanjang sejarah, Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw, dalam rentetan sejarah selalu ada penyelewengan-penyeleweng oleh oknum yang memiliki kedangkalan ber-Islam maupun pihak luar yang mencoba melihat Islam dengan kaca mata kebencian. Namun demikian, sejarah pula yang membuktikan, Islam yang rahmah li al-alamin sampai kini tetap bertahan. (*)
Winarto S.Th.I. M.S.I.,
Dosen Fakultas Syariah IAIN Surakarta. Penulis bisa dihubungi melalui e-mail: winvenuz2@gmail.com.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Melawan Radikalisme"

Post a Comment