Dari Dusun ke Dusun Terpencil Ajarkan Ilmu Agama

Tahun 1994, Dusun Sunten, Desa Lau, Kecamatan Dawe, Kudus masih gelap gulita. Listrik belum masuk ke dusun terpencil ini. Jalanannya, waktu itu, masih berupa ‘makadam’ hanya tanah dan bebatuan. Kanan kiri jalan alas kebun dan tebing tinggi menjulang.
Masyarakatnya beragam. Kaum tua bertani sementara anak muda merantau kerja bangunan. Dusun yang berjarak 20 km dari perkotaan Kudus ini, dikenal sebagai kaum abangan. Menurut pengakuan warga setempat, pengetahuan ilmu agama (waktu itu) belum sepenuhnya mengenal dan mengerti. Hal ini mengakibatkan kesadaran warga melaksanakan kegiatan keagamaan masih nol.
“Dari sisi ekonomi memang sangat mencolok, namun bekal keagamaan masih kurang. Tapi sejak ada Bakti sosial (baksos) siswa madrasah TBS Kudus dan Imam Fathoni pada 1994 hingga sekarang, kesadaran berkegiatan keagamaan Islam di kampung sini mulai tumbuh,” ujar Sulikan, tokoh pemuda dusun setempat.
Imam fathoni memang telah menjadi sosok yang mempunyai jasa atas perkembangan keagamaan di dusun tersebut. Sikapnya yang supel, kepedulian dan perhatiannya terhadap kondisi keagamaan dusun Sunten tersebut, putra pasangan Ahmadi Kholil dan Zulaenah ini, telah ditokohkan oleh warga setempat.
Kiprah pemuda asal desa Besito Gebog Kudus mengembangkan dakwahnya di Sunten ini, sudah berlangsung sejak 1994. Waktu itu, ia masih menjadi pelajar MANU TBS Kudus. Hingga kini, ia masih meluangkan waktunya menyambangi warga dusun berpenduduk 120 KK. Setiap sepekan sekali, ia datang mengajarkan ilmu agama (mulang ngaji) di tengah masyarakat.
Dengan model mengaji, ia ajarkan berbagai ilmu agama yang sangat dasar. Seperti mengaji al qur’an, pelajaran sholat (fasholatan), seni membaca alqur’an (qiro’ah) hingga mengaji kitab. Bahkan pria kelahiran 5 Agustus 1978 juga menjadi khotib sholat jum’at setiap selapan sekali.
Menurutnya, perjuangan di dusun itu sebagai tindak lanjut kegiatan bakti sosial yang diadakan OSIS MANU TBS Kudus (1994). Atas permintaan masyarakat Sunten, ia meminta restu guru-guru madrasah TBS termasuk para kiai guna meneruskan mengajarkan ilmu agama di kampung tersebut. Oleh kyai-nya, Fathoni diberi restu dan bekal sebuah kitab Durrotun Nasihin.
“Melihat masyarakatnya sangat abangan, minus agama, saya terketuk melanjutkan program Baksos madrasah. Ini panggilan jiwa mengajarkan agama di sini,”kata putra penjual warung nasi ini.
Waktu itu, statusnya masih pelajar dan santri di madrasah TBS. Selama enam hari,  sabtu sampai kamis, belajar di madrasah. Kemudian kamis sore hingga jum’at malam, ia pergi mengabdi dan  menginap di Sunten.
Perjuangannya banyak cerita. Selama tiga tahun naik sepeda ontel menuju dusun sunten yang berjarak 8 km dari rumahnya. Terkadang pas hujan, ia harus jatuh bangun karena licinnya jalanan batu cadas. “Tetapi hal itu bukanlah hambatan, malah bisa sebagai pemacu semangat mengajarkan ilmu agama di sini,”tutur Fathoni.
Dalam mengajarkan berbagai ilmu agama tidak bisa lepas dari hambatan dan tantangan. Disamping medannya yang jauh dan  sulit, juga kondisi anak muda dusun itu yang masih suka mabuk-mabukan. Maklum dusun yang belum kesentuh agama waktu itu, minum-minuman keras menjadi kegiatan sehari-hari anak muda.
Pernah terjadi, pemuda Sunten salah paham mendengar ceramah atau dakwah yang disampaikan Fathoni. Sehingga Ia pernah trauma. Soalnya, pria jebolan pondok pesantren Bandungsari Purwodadi ini hampir dibunuh oleh pemuda mabuk di sini.
“Gara-garanya sepele,  salah paham. Anak muda  tidak terima apa yang saya sampaikan. Namun, berkat dorongan dan dukungan masyarakat lainnya, saya tetap sabar mengajar disini,”ujar Fathoni bercerita.
Tumbuh kesadaran
Selama puluhan tahun, Imam fathoni terus mengajarkan dengan penuh kesabaran. Usai lulus sekolah, intensitas pertemuan mengaji dengan warga Sunten semakin bertambah. Kegiatan-kegiatan seperti berjanjinan, tahlilan dan pengajian terus ia galakkan.
Pada Jum’at Pon, ia didapuk sebagai khotib sholat jum’at. Setiap kali khutbah ia selalu menyentuh perasaan jamaah melalui pesan-pesan dan ajakan berbuat kebaikan. Kesadaran warga melaksanakan kegiatan agama-pun sudah mengalami kemajuan.
Sholat di masjid Tsamrotul Huda Sunten mulai bertambah jamaahnya. Sholat jum’atan yang semula hanya 20 orang jamaah, sekarang sudah mencapai seratus lebih jamaah. Perbuatan negatif para pemuda dusun Sunten pelan-pelan berkurang.
Fathoni bertekad sebelum ada kader pengganti dari dusun sini, ia tidak akan berhenti datang ke dusun Sunten ini. Setiap kesempatan, Imam fathoni juga mendorong kesadaran masyarakat menyekolahkan anaknya di madrasah ataupun mondok di pesantren. Tujuannya, untuk mempersiapkan kader yang siap mengajarkan ilmu agama di masa mendatang.
Terbukti, banyak remaja atau pemuda yang sudah lulus sekolah madrasah yang bisa mengamalkan ilmunya. Taman pendidikan Alqur’an (TPQ)  yang didirikan tahun 2003 para ustadznya sudah berasal dari kampung sendiri. Begitu pula, masjid Sunten tidak pernah sepi dari jamaah sholat dengan imam dari tokoh setempat.
Model Aplikatif
Setelah terlihat ada kemajuannya, Imam fathoni kini tidak hanya fokus pada satu dusun Sunten saja. Ia sekarang bertambah kegiatan mengajar (jawa; mulang ngaji) di tempat lain. Keberhasilannya di Sunten, menarik perhatian warga dusun lainnya untuk mengundang ia mulang ngaji.
Tahun 2000an, Fathoni mengembangkan dakwahya di dusun tetangga sebelah tepatnya dusun Ongol-ongol dan Sudimoro, desa Lau Dawe Kudus. Hingga kini sepekan sekali secara bergiliran mulang ngaji terhadap jamiyah kaum ibu.
Di dusun Sunten. Fathoni menjadwal setiap Ahad bakda Ashar dan jum’at pon khutbah di masjid setempat. Sisanya harinya ia gunakan mulang ngaj di dusun terpencil lainnya pada siang dan malam hari.
Di kalangan jamaah, banyak yang suka dengan model pengajaran yang dilakukan imam Fathoni. Metode yang dikembangkan sangat aplikatif sehingga sangat mudah dipahami dan diterapkan oleh para jamaah pengajian.
Pada pengajian hari Ahad sore (27/9/2015) lalu misalnya, Imam fathoni menerangkan kitab Irsyadul ‘Ibad bab syarat dan rukun sholat kepada jamiyah ibu-ibu di dukuh Sunten Rt 6 Rw 7 Lau Dawe. Ia tidak sekedar menjelaskan keterangan dari kitab semata. Tetapi, Imam fathoni juga memberi contoh bagaimana caranya memakai rukuh (alat sholat) bagi kaum perempuan.
Untuk memudahkan jamaah memahami yang disampaikan, ia juga menggunakan alat peraga video “orang memakai rukoh yang benar” dari handphone androidnya. Ia juga menyuruh salah satu jamaah memakai rukoh kemudian dinilai kebenarannya. “Jadi kalau memakai rukoh itu, janggutnya harus ke-tutupan. Bila tidak, tidak sah sholatnya,” terangnya sembari menunjukkan video dari android kepada jamaahnya.
Model pengajaran yang demikian sangat disuka para jamaah. Termasuk gaya Fathoni yang supel dan diselingi humor menjadi daya tarik tersendiri. Para jamaah sangat mudah memahami pelajaran yang diterima.
Kiai Panggung
Jadwal mulang (mengajar) ngaji Imam Fathoni pun kian luas dan padat. Sehari-harinya ia habiskan untuk mengajarkan ilmu agama. Tercatat dalam jadwal mengajarnya mencapai 30 tempat, baik yang rutin mingguan maupun selapan sekali.
Pagi hari, ia mengabdi di Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama Miftahul Huda dukuh Sudimoro desa Karangmalang Gebog Kudus Jateng. Siang hari, usai pulang dari Madrasah,  digunakan untuk berkumpul dengan keluarganya. Kemudian siang hari, bapak dua anak yang hobi burung kicauan ini, mulang mengaji sebagaimana jadwal yang diagendakan. 
Di kampungnya sendiri, Dusun Kebonalas Desa Besito Gebog Kudus, Imam Fathoni juga memberi perhatian masalah keagamaan warga di sekelilingnya. Setiap malam bakda maghrib, rumahnya dijadikan sarana mengaji anak-anak. “Tiap malam ada puluhan anak-anak mengaji Alqur’an, fasholatan dan mengaji kitab-kitab lainnya dirumah ini,”imbuh dia.
Di kalangan orang tua, ia mendirikan majlis ta’lim Safinatun Najah kebon alas.  Majlis ini mentradisikan pengajian selapanan membaca rotib dan maulidurrasul. Dalam pengajian majlis ini, ia menghadirkan para habaib dan ulama dari luar kota. Harapannya, menambah semangat warga supaya tidak mengalami kebosanan dalam mengaji.
 “Kalau saya sudah tiap malam jadwal di majlis Safinatun najah. Supaya jamaah tidak bosan dan ada pencerahan lain, sengaja saya mengundang tokoh kyai dan habaib dari luar kampung sini,”imbu suami Isma Rochmawati ini.
Tidak hanya itu, Imam fathoni yang dikenal sebagai kiai muda ini, sering mendapat undangan untuk ceramah dalam acara-acara pengajian umum. Di Sunten sendiri, selain acara rutinan,  ia selalu rutin mengisi mauidhoh hasanah setiap kali ada acara tiga atau tujuh hari orang meninggal dan hajat lainnya.
Pada momen-moment hari besar-pun demikian. Seakan tiada waktu kosong ia selalu berceramah kemana-mana. Bukan hanya di desa tetangga, ia pernah diundang ke luar kota.Kini ia tidak hanya sebagai guru ngaji di mushollah-musholla, tetapi juga dikenal sebagai kiai panggung di sejumlah tempat.
Mengenai kiat dalam berdakwah, ia menerangkan modalnya adalah kesabaran, keikhlasan dan ketekunan. Dan yang paling penting, katanya, keyakinan hati bahwa berdakwah ini bagian dari panggilan jiwa.
Disamping menjadi juru dakwah di dusun-dusun terpencil, ia juga aktif di organisasi kemasyarakatan. Tercatat saat ini, ia aktif sebagai pengurus Lembaga pengembangan pertanian Nahdlatul Ulama(LPPNU) Kabupaten Kudus dan Ketua Rijalul Ansor kecamatan Gebog Kudus.
Bagaimana membagi waktunya? Bagi dia mudah mengaturnya. Ia bisa menyesuaikan antara waktu ceramah dan berorganisasi. “intinya jadwal rutin pengajian jangan sampai terganggu oleh jadwal berorganisasi. Jangan sampai kosong sehingga jamiyah selapanan tidak sampai bubar,”ujarnya lagi.
Kiprah dia dalam memperjuangkan pendidikan agama Islam memang tidak pernah surut. Ia sudah teruji bagaimana dirinya mampu membantu mengentaskan kondisi dusun Sunten desa Lau dawe dan sekitarnya dari kebodohan ilmu agama. Semoga ia tetap istiqomah melanjutkan perjuangannya berdakwah dari dusun ke dusun terpencil. (Adib)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Dari Dusun ke Dusun Terpencil Ajarkan Ilmu Agama"

Post a Comment