Apa Alasanmu Menulis?

Eko Sugiarto

Suatu hari, seorang kawan bertanya.
”Jika disuruh memilih, mana sebutan yang akan kamu pilih. Penulis, penyair, cerpenis, atau novelis?”
“Aku tidak akan memilih,” jawabku sembari menunggu reaksinya.
“Mengapa?”
“Aku tidak begitu peduli dengan sebutan itu.”
“Kalau dipaksa?”
“Siapa yang akan memaksa?”
Kawanku terdiam sejenak. Sejurus kemudian, bibirnya mulai bergerak. Ketika dia mulai berbicara, aku memotongnya dengan berkata, “Aku pilih penulis.”
“Kenapa memilih penulis?”
“Gampang.”
“Gampang?” dia terlihat mengerutkan kening.
Aku lantas berkata, ”Silakan buka Kamus Besar Bahasa Indonesia. Salah satu pengertian penulis dalam kamus itu adalah orang yang menulis?”
Melihat wajah dengan ekspresi bingung, aku berkata lagi, “Ketika menulis sebuah kalimat, aku sudah bisa disebut sebagai penulis. Aku adalah penulis kalimat tersebut. Kalau penyair, aku harus punya karya berupa puisi. Kalau cerpenis, aku harus punya karya berupa cerpen. Kalau novelis, aku harus punya karya berupa novel. Itu semua berat bagiku. Nah, kalau penulis, aku cukup punya tulisan tanpa harus terbebani oleh apakah itu puisi, cerpen, atau novel.”
Dia mengangguk berkali-kali.
“Bahkan, tidak peduli apakah tulisanku itu bagus atau buruk sekalipun. Aku juga tidak harus memublikasikan tulisan itu. Kalaupun toh dipublikasikan, aku bisa memilih di media apa saja. Di akun media sosial pun jadilah. Tak harus media yang begini atau begitu, misal koran, majalah, buku, atau yang lain,” kataku lagi.
Kawanku bertanya lagi, ”Wah, kalau begitu gampang dong jadi penulis?”
”Ya, gampang. Tulis saja beberapa kalimat dan kamu bisa disebut sebagai seorang penulis,” kataku.
***
Begitulah. Untuk menjadi penulis sebagaimana dalam pengertian di atas (orang yang menulis) memang gampang, bahkan sangat. Kegiatan menulis yang begitu gampang dan sederhana sering menjadi sesuatu yang sulit dan rumit karena belum apa-apa, kita sudah terbebani dengan sebutan penyair, cerpenis, novelis, atau sebutan lain. Alih-alih menghasilkan tulisan, terkadang justru kemandekan yang kita alami.
Jadi, tulis saja apa yang ingin kamu tulis. Tak usah peduli mau jadi seperti apa tulisan itu nanti serta mau dapat sebutan apa diri kita kelak, itu urusan nanti. Membiasakan diri untuk menulis akan jauh lebih bermanfaat ketimbang harus memikirkan hal-hal yang pada akhirnya justru membuat kita mandek menulis.
Lantas apakah keliru jika kita menulis supaya bisa disebut sebagai penyair, cerpenis, atau novelis? Tidak. Saya tidak bilang keliru. Alasan mengapa kita menulis, itu bersifat personal dan tidak ada yang bisa melarang.
Akan tetapi, jika alasan itu (sekali lagi) justru menjadi beban dan akhirnya membuat kita mandek dan tidak menghasilkan tulisan, mungkin ada baiknya jika kita mengubah alasan kita dalam menulis. Sebuah alasan yang tidak membebani. Apa pun bentuk alasan itu, sah dan boleh-boleh saja. Tidak ada yang melarang. Bahkan, jika alasan itu berupa materi. Uang, misalnya.
Ada yang bilang bahwa menulis dengan alasan untuk mendapatkan uang (honor) adalah sesuatu yang kurang etis. Saya kira tidak juga. Menulis untuk alasan uang tetap sah-sah saja selama kita tetap mempertahankan kualitas tulisan kita. Jujur saja, salah satu alasan awal saya menekuni dunia penulisan adalah uang.
Saya tidak menutupi kenyataan ini karena awal saya menenukuni dunia tulis-menulis adalah saat saya jadi mahasiswa dengan kondisi keuangan pas-pasan dan kiriman dari orang tua yang sering tersendat-sendat. Daripada saya mencuri atau mencopet untuk sekadar menutupi kekurangan keuangan bulanan, saya putuskan untuk menulis.
Sekali lagi, alasan mengapa kita menulis itu bersifat personal. Apa pun itu, sah-sah saja. Satu hal yang perlu dicatat adalah hendaknya alasan itu bisa membuat kita semakin semangat dalam menulis, bukan justru mematikan semangat dalam menulis. Lalu, apa alasanmu dalam menulis? (*)
Eko Sugiarto,
Penulis dan dosen Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo Yogyakarta. 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Apa Alasanmu Menulis?"

Post a Comment