Perihal Otentisitas dan Cara Mahami Al-Quran

Zaki Muttaqien

Al-Quran, wahyu Ilahi yang diturunkan kepada umat manusia melalui Nabi Muhammad Saw., merupakan kalamullah yang terjaga kemurnian, orisinalitas dan otentisitasnya.
Banyak yang berpikir, bagaimana al-Quran bisa terjaga orisinalitas dan otentisitasnya, dimana pun keberadaannya. Perkembangan zaman, perbedaan tempat, bahkan perkembangan pola pikir manusia yang kian modern sekali pun.
Al-Quran sebagai petunjuk (hudan) bagi umat Islam, dan bagi mereka yang membacanya akan mendapatkan pahala. Sementara tafsir atas kitab suci ini, adalah metode (cara) untuk memahami kandungan isinya. Namun dalam menafsirkan al-Quran, tentu harus menggunakan ilmu dan tidak boleh seenaknya.
Imam Ibnu Katsir dalam tafsir al-Quran al-adzim mengatakan, “Barangsiapa menafsirkan al-Quran dengan logika (tanpa ilmu), maka hukumnya haram”.
Dalam hal ini, Syekh Manna’ Qathan, menjelaskan, seseseorang yang akan menafsirkan Al-Quran, harus menguasai minimal 14 cabang keilmuan, antara lain ilmu Qiraat, Nahwa, Sharf, ilmu Rasm, dan Balgahah.
Persyaratan seseorang diperbolehkan menafsirkan al-Quran dengan begitu ketat itu, lantaran banyak ayat dalam al-Quran, yang penjelasannya terdapat pada tempat –surah– lain, dan bukan langsung ada pada ayat lanjutannya tersebut, yang dikenal dengan ilmu munasabah ayat.
Berbeda dengan kitab-kitab lain di dunia, yang memakai bab atau tema dalam setiap penjelasannya. Sehingga, dari urutan bab tersebut, penjelasannya akan mempermudah pemahaman seseorang.
Di Barat, al-Quran dikatakan sebagai kitab yang paling membingungkan di dunia. Betapa tidak, al-Quran tidak disusun secara tematik dan persoalannya. Namun umat Islam dengan keimanannya, maka diberi kemudahan dalam membaca dan mempelajarinya.
Untuk itu, dalam memahami kandungan al-Quran dan menyikapi problematika umat yang berkembang dari waktu ke waktu, al-Quran telah memberikan pesan yang sangat tegas, yaitu agar bertanya kepada ahlinya.
Dalam surat an-Nahl ayat 43 disebutkan, “… Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kalian tidak mengetahui”. Semoga kita menjadi umat yang masuk dalam ahli al-Quran dan akan mendapatkan syafaatnya kelak di yaumil qiyamah. Wallahu a’lam. (*)
Zaki Muttaqien, SQ
Pengurus PP Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama/ IPNU 2015-2018, alumnus Pondok Tahfisz Yanbu’ul Qur’an Kudus dan mahasiswa Kulliyatul Qur’an Al-Hikam, Depok.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Perihal Otentisitas dan Cara Mahami Al-Quran "

Post a Comment