Ngaji Pasanan, Bertahan di Tengah Gempuran Arus Globalisasi

Kudus, Bekanews.com – Ngaji pasanan atau ngaji kilatan di pondok-pondok pesantren maupun masjid-masjid saat Ramadan, menjadi tradisi unik masyarakat Islam di Indonesia, khususnya Jawa. Biasanya, ngaji pasanan ini adalah untuk tabarrukan kepada kiai yang membaca kitab.
Namun beberapa tahun belakangan, minat untuk ngaji pasanan, kian menurun di kalangan generasi muda. Hal itu, antara lain yang menjadi keprihatinan Sugiono (42), salah satu warga di Kecamatan Mejobo, yang sejak muda suka mengikuti ngaji pasanan di berbagai pesantren di Jekulo, Kudus.
Dia mengilustrasikan, hingga tahun 2000-an, setiap kali Ramadan, lalu lalang santri dari berbagai daerah, banyak yang mengaji pasanan di Jekulo. ‘’Namun sayang, sekarang minat ngaji pasanan semakin menurun,’’ ungkapnya.
enurunnya minat santri saat ini untuk tabarrukan ngaji pasanan, diakui oleh Umar Faruq (27). Warga Jekulo ini mengatakan, perbandingannya jauh jika melihat sekitar sekitar delapan sampai 10 tahun lalu, apalagi jika dibandingkan pada masa KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjabat Presiden.
‘’Dulu banyak santri yang rata-rata masih sekolah, ikut ngaji pasanan. Karena saat itu, sekolah libur total. Tetapi paling ramai, zaman Gus Dur jadi Presiden. Karena sekolah libur, anak-anak sekolah banyak yang ikut mengaji,’’ ungkapnya.
Kendati mengalami penurunan dari waktu ke waktu, namun menurut Gus Mohammad Mujab, ketulusan para kiai menggelar ngaji pasanan saat Ramadan, merupakan teladan yang sangat baik bagi masyarakat.
‘’Para kiai selalu tulus menggelar pengajian pasanan di pesantren masing-masing maupun masjid. Tidak peduli berapapun santri yangg ikut mengaji. Ini keikhlasan yang luar biasa, yang bisa jadi teladan,’’ terang kiai muda pengasuh Pondok Pesantren Al-Yasir Jekulo ini.
Keikhlasan para kiai menggelar ngaji pasanan, lanjutnya menambahkan, bisa dilihat banyak tempat di Indonesia, tidak hanya di Jekulo. ‘’Di Kudus, selain di pondok-pondok pesantren Jekulo, pengajian Ramadan bisa ditemui di banyak tempat, khususnya di Menara Kudus setiap bakda Shubuh oleh KH. Sya’roni Ahmadi dan di Masjid Langgar Dalem oleh KH. Choirozyad,’’ katanya.
Perlu Inovasi
Pengurus Pusat Asosiasi Pesantren Nahdlatul Ulama (Rabithah Ma’ahid Islamiyah/ RMI) Divisi Media dan Informasi, Abdulloh Hamid M.Pd., melihat gejala menurunnya minat santri ngaji pasanan dan masuk pesantren secara umum, karena pengaruh internal dan eksternal.
‘’Pengaruh internal itu adalah, pesantren belum bisa memenuhi kebutuhan masyarakat sekarang. Masyarakat sekarang, terutama kelas menengah, menginginkan pesantren itu seperti hotel. Semua bersih, ber-AC, dan makan terjamin. Tidak peduli kitab apa yang dikaji,’’ ujarnya.
Sedang faktor eksternal, yaitu gaya hidup masyarakat sekarang yang cenderung pragmatis, tidak seperti masyarakat zaman dulu yang idealis. ‘’Masyarakat sekarang mengarahkan anaknya sekolah agar bisa jadi PNS atau cepat kerja. Kalau dulu, orang tua mendidik dan mengarahkan anak-anaknya belajar ke pesantrendengan niat tafaqquh fi al-din dan mengurangi kebodohan. Masalah rizki, sudah ada yang mengatur, manusia tinggal berusaha (ikhtiar) saja,’’ jelas dosen UIN Sunan Ampel Surabaya ini.
Untuk itu, menurutnya, pesantren sekarang perlu melakukan inovasi. ‘’Yang dilayani sekarang masih sel-sel lama, yakni yang keluarganya alumni pondok. Padahal ada sel baru (orang yang belum pernah mondok), yang belum terlayani,’’ paparnya.
Abdulloh Hamid berujar, inovasi ini penting, untuk bisa melayani dua sel (komunitas masyarakat) yang ada. ‘’Inovasi bagi pesantren menjadi keniscayaan, agar minat generasi muda belajar meningkat. Ini sesuai prinsip al-muhafadhatu ‘ala al-qadim al-shalih, wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah. Mempertahankan sesuatu yang lama yang sudah baik, dan mengambil sesuatu yang baru yang lebih baik,’’ tegasnya. (ira)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ngaji Pasanan, Bertahan di Tengah Gempuran Arus Globalisasi"

Post a Comment