Menjaga Pancasila Kita

Achmad Fakhrudin
Perjalanan lahirnya Pancasila, tidak terlepas dari sejarah masa lalu, khususnya keberadaan Kerajaan Majapahit dan adanya Kitab Sutasoma gubahan Mpu Tantular, yang beberapa teksnya menjadi inspirasi yang termaktub dalam lambang Garuda Pancasila: Bhinneka Tunggal Ika.
Pancasila lahir menjadi falsafah hidup bangsa Indonesia. Ia bermula dari permintaan Dr. Radjiman Wediodiningrat, yang meminta Ir. Soekarno memikirkan philosofische grondslag (dasar falsafah) bagi Indonesia yang bisa menjadi weltanschauung (pandangan dunia) bagi kelanjutan Indonesia di masa–masa mendatang.
Soekarno pun menyambut baik ‘permintaan’ Radjiman Wediodiningrat, yang kemudian memaparkan pokok-pokok pemikiranvya dalam sidang pertama Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 29 Mei 1945, sehingga tercetuslah Pancasila pada 1 Juni 1945.
Pancasila adalah pencapaian pemikiran yang luar biasa, termasuk dalam perumusan selanjutnya oleh founding fathers bangsa ini, karena dalam waktu teramat. Founding fathers yang ikut merumuskan hingga akhirnya lahirlah Pancasila pada 1 Juni 1945 dengan lima asasnya yang disahkan 18 Agustus 1945, adalah Mr. Soepomo dan Mr. Moh. Yamin.
Bagaimana Pancasila kini? Lebih dari 70 Tahun Indonesia merdeka, selama itu pula Pancasila menjadi pedoman universal hidup bernegara dan berbangsa, yang mampu menyatukan keragaman agama, suku, dan ras yang ada. Rakyat hidup berdampingan dengan damai di tengah perbedaan.
Namun kini, da kelompok-kelompok yang dengan sengaja hendak memecah belah bangsa dan ‘’ingin menggantikan’’ Pancasila dengan ideologi (paham) lain yang tidak sesuai dengan realitas Indonesia yang plural. Khilafah, misalnya.
Pengalaman hidup berbangsa yang damai, toleran dan saling menghormati berkat falsafah bangsa yang adiluhung itulah, maka Pancasila masing-masing kita sebagai warga negara wajib menjaga ‘’warisan luhur’’ itu sampai kapan pun.
Yudi Latif dalam ‘’Negara Paripurna’’ mengakatan, Pancasila adalah dasar statis yang mempersatukan sekaligus bintang penuntun (leistar) yang dinamis, yang mengarahkan bangsa pada tujuanya, yang berarti konsep-konsep para yang di hasilkan para founding fathers tersebut benar-benar memiliki makna yang sangat dalam bagi tujuan bangsa.
Apalagi, Ir. Soekarno (1958) secara tegas juga telah mengatakan, “ ... kecuali Pancasila adalah satu weltanschaung, satu dasar falsafah, Pancasila adalah satu alat mempersatu, yang Saya yakin seyakin-yakinnya, Bangsa Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke hanyalah dapat bersatu dalam Pancasila itu’’.
Melihat penegasan ini, yakinlah kita berdasarkan pengalaman hidup berbangsa selama ini, Pancasila adalah falsafah bangsa yang memang paling sesuai melihat keberagaman yang ada. Pancasila adalah kita. Relakah kita jika kemudian ada yang mengusiknya? (*)
Achmad Fakhrudin,
Penulis adalah aktivis GP. Ansor Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus dan Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Ilmu Budaya Islam (STIBI) Syeh Jangkung, Kabupaten Pati.                        

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Menjaga Pancasila Kita"

Post a Comment