Cara Mudah Menulis Pantun

Eko Sugiarto

Pernahkah kalian melihat orang berbalas pantun? Jika pernah, coba kalian renungkan. Hanya dalam hitungan menit (bahkan bisa jadi dalam hitungan detik), orang yang terlibat dalam acara berbalas pantun harus menghasilkan sebait pantun sebagai balasan atas pantun yang dilontarkan oleh “lawannya”.
Hal ini dilakukan secara spontan, tanpa menggunakan alat tulis karena memang dilakukan secara lisan sehingga kecepatan dalam merangkai kata benar-benar diuji. Nah, jika diminta melakukan hal serupa, kira-kira kalian mampu?
Bagus jika jawaban kalian adalah “mampu”. Namun, saya juga memaklumi jika ada di antara kalian menjawab “tidak mampu” atau bahkan hanya diam seribu bahasa.
Memang, bagi sebagian orang, menulis pantun adalah sesuatu yang sangat mudah. Namun, bagi sebagian yang lain, menulis pantun adalah sesuatu yang sangat sulit, apalagi kebiasaan berbalas pantun saat ini sangat jarang dilakukan. Lantas mana yang benar? Mudah atau sulit?
Menulis pantun yang indah memang bukan sesuatu yang mudah. Meskipun demikian, jika mengetahui langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan, menulis pantun menjadi sesuatu yang tidak terlalu sulit. Bahkan, bisa jadi menulis pantun akan menjadi sebuah aktivitas yang sangat mengasyikkan.
Mengapa mengasyikkan? Jawabannya sederhana. Karena pantun merupakan gubahan yang diuntai atau diikat oleh ikatan-ikatan tertentu yang membedakan dengan bentuk karya sastra lain, kita dituntut untuk bisa mengikuti berbagai kaidah atau ikatan yang terdapat dalam sebuah pantun. Di sinilah kejelian serta kreativitas kita diuji.
Pantun tergolong unik karena untuk memahami isi sebuah pantun, sebuah paragraf (bait) pantun umumnya sudah bisa menjelaskan apa pemikiran yang ingin disampaikan si penulis pantun karena umumnya sebait pantun bisa berdiri sendiri.
Oleh karena itu, sebuah buku kumpulan pantun tidak harus dibaca runtut dari awal sampai akhir karena kita bisa membaca buku tersebut dari bagian awal, bagian tengah, maupun dari bagian akhir, bergantung kebutuhan. Hal ini memungkinkan karena sebait pantun umumnya sudah berisi sebuah pesan yang utuh sehingga dengan membaca sebait pantun, kita sudah memahami isi pantun tersebut.
Mengingat pantun termasuk sebuah karya sastra yang khas, langkah-langkah menulisnya pun agak khas. Nah, di sini akan dibahas cara menulis pantun langkah demi langkah. Karena berisi panduan tentang cara menulis pantun, penjelasan tentang pantun secara detail tidak diuraikan di sini. Hanya beberapa hal yang berkaitan dengan keterampilan menulis pantun yang akan dibahas secara sekilas.
A. Pantun Selayang Pandang
Pantun merupakan bentuk puisi asli Indonesia (Melayu). Namun, istilah pantun pernah menjadi perdebatan sebagian pengamat sastra. Sebagian dari mereka menyatakan bahwa kata pantun berati misal, seperti, umpama (pengertian semacam ini juga termuat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia).
Namun, ada sebagian orang yang menyatakan bahwa kata pantun berasal dari bahasa Jawa, yaitu pantun atau pari. Baik pantun maupun pari sama-sama berarti padi dalam bahasa Indonesia (Melayu).
Pendapat yang menyatakan bahwa kata pantun berasal dari bahasa Jawa dikuatkan oleh adanya salah satu jenis puisi lisan Jawa yang mirip pantun. Dalam kesusasteraan Jawa, ikatan puisi yang mirip dengan pantun ini dinamakan parikan.
Ada sebuah pendapat yang menyatakan bahwa parikan berasal dari kata rik yang bisa dibandingkan dengan larik yang berarti baris atau menderetkan. Fungsi parikan tidak jauh beda dengan pantun, yaitu untuk melukiskan perasaan cinta, alat untuk menyindir, sebagai lelucon, dan sebagainya. Parikan lazim digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana halnya pantun, dalam parikan juga dikenal istilah sampiran.
Bentuk parikan dalam kesusasteraan Jawa bisa disejajarkan dengan bentuk pantun dalam kesusasteraan Melayu. Perbedaan antara parikan dan pantun terletak pada jumlah larik tiap bait. Jika pantun terdiri empat baris, parikan hanya terdiri dua baris. Dengan demikian, parikan bisa disejajarkan dengan pantun kilat atau karmina dalam puisi Melayu.
Agar lebih jelas, mari kita simak contoh parikan di bawah ini sehingga bisa membandingkannya dengan karmina atau pantun kilat.

Kopi bubuk, gula jawa
Yen kepethuk, atine lega
(Kopi bubuk, gula jawa
Kalau berjumpa, hatinya lega)

Kopi bubuk, gula jawa
Aja ngamuk, enggal tuwa
(Kopi bubuk, gula jawa
Jangan marah, lekas tua)

Mangan kupat, dicampur santen
Menawi lepat, nyuwun pangapunten
(Makan ketupat, dicampur santan
Kalau ada salah, mohon dimaafkan)

Jika kita cermati, dua contoh parikan di atas ternyata juga bisa disusun empat baris layaknya pantun. Dalam susunan semacam ini, beberapa parikan persajakannya bahkan sama dengan pantun, yaitu ab-ab. Namun, jika parikan disusun empat baris tiap bait, maka baris ini hanya terdiri atas dua kata. Perhatikan contoh di bawah ini.

Kopi bubuk,
gula jawa
Yen kepethuk,
atine lega

Kopi bubuk,
gula jawa
Aja ngamuk,
enggal tuwa

Mangan kupat,
dicampur santen
Menawi lepat,
nyuwun pangapunten

Meskipun ada perbedaan pendapat dari para ahli mengenai asal-usul kata pantun, satu hal yang perlu digarisbawahi adalah bahwa parikan dan pantun merupakan gubahan yang diuntai atau diikat oleh ikatan-ikatan tertentu. Ikatan-ikatan inilah yang membedakan dengan bentuk karya sastra lisan yang lain dan merupakan ciri khas yang mudah dikenali.
B. Ciri-ciri Pantun
Untuk bisa menulis pantun secara baik sekaligus menghasilkan pantun yang indah, terlebih dahulu kita mesti mengetahui ciri-ciri sebuah pantun. Ciri-ciri inilah yang akan kita gunakan sebagai pedoman sekaligus tolok ukur apakah pantun kita nanti sudah memenuhi syarat sebagai sebuah pantun atau belum.
Adapun ciri-ciri sebuah pantun adalah sebagai berikut.
·         Setiap untai (bait) terdiri atas empat larik (baris).
·         Banyaknya suku kata tiap larik sama atau hampir sama (biasanya terdiri atas 8–12 suku kata).
·         Umumnya bersajak ab-ab meskipun ada yang bersajak aa-aa.
·         Larik pertama dan kedua disebut sampiran, sedangkan larik ketiga dan keempat disebut isi pantun (makna, tujuan, dan tema pantun). Larik sampiran ini mengandung tenaga pengimbau bagi pendengar atau pembaca untuk segera mendengar atau membaca larik ketiga dan keempat.

Ciri-ciri pantun sebagaimana di atas harus selalu kita ingat ketika menulis sebuah pantun. Setelah mengetahui ciri-ciri sebuah pantun sebagaimana di atas, kini saatnya untuk mulai menulis pantun.
Perlu kalian ketahui bahwa langkah-langkah menulis pantun di bawah ini bukanlah sesuatu yang baku. Bisa jadi kalian menemukan langkah-langkah yang berbeda. Hal ini tentu tidak jadi masalah. Silakan kalian pilih langkah-langkah mana yang lebih mudah diterapkan.
C. Menentukan Tema
Dalam menulis pantun, hal pertama yang harus kita lakukan adalah menentukan tema. Tema pantun ini akan berkaitan dengan jenis pantun yang akan kita tulis. Oleh karena itu, kita mesti ingat pengelompokan pantun berdasarkan maksud/isi/temanya.
Berdasarkan maksud/isi/temanya, pantun dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu pantun anak-anak, pantun remaja/dewasa, dan pantun orang tua. Masing-masing kelompok menunjukkan kekhasan tema sesuai dengan perilaku pemiliknya.
Pantun anak-anak menggambarkan dunia anak-anak yang biasanya berisi rasa senang dan sedih. Oleh karena itu, jenis pantun anak dibagi dua, yaitu pantun bersukacita dan pantun berdukacita. Pantun anak-anak biasanya dipakai saat bermain atau digumamkan saat sedih.
Pantun remaja atau dewasa berisi kehidupan remaja/dewasa. Tema cinta sangat dominan dalam pantun remaja/dewasa. Pantun remaja atau dewasa dibagi beberapa jenis, yaitu pantun perkenalan, pantun berkasih-kasihan/percintaan, dan pantun perceraian/ perpisahan. Pantun remaja/dewasa, khususnya pantun muda (pantun cinta kasih), digunakan untuk bersilat lidah dalam memadu cinta kasih di antara muda-mudi.
Pantun orang tua berisi pendidikan dan ajaran agama. Pantun jenis ini dibagi menjadi beberapa macam, di antaranya pantun nasihat, pantun adat, pantun agama, pantun budi, pantun kepahlawanan, pantun kias, dan pantun peribahasa. Pantun orang tua dipakai dalam pertemuan adat sebagai selingan penegas dalam berdialog atau berdebat. Selain itu, pantun orang tua juga digunakan sebagai kias dan ibarat ketika orang tua menasihati anak/cucunya.
Nah, ketika akan menulis sebuah pantun, tentukan jenis pantun apa yang akan kita tulis sekaligus temanya tentang apa. Jika hal ini sudah dilakukan, kita bisa masuk ke tahap berikutnya, yaitu mengumpulkan kosakata yang berkaitan dengan jenis dan tema pantun yang akan kita tulis.

D. Teknis Penulisan
Setelah menentukan tema, tiba saatnya kita masuk ke tahap berikutnya, yaitu teknis penulisan pantun. Berikut teknis penulisan pantun langkah demi langkah.
Pertama, cari kata terakhir isi pantun (baris ke-3 dan ke-4) dan sesuaikan dengan tema. Meskipun ada pantun yang bersajak aa-aa, akan lebih baik jika persajakan pantun yang akan ditulis bersajak ab-ab. Persajakan (persamaan bunyi) ab-ab ini akan menimbulkan efek irama yang unik sekaligus langsung menunjukkan bahwa pola persajakan ini (ab-ab) adalah pola persajakan sebuah pantun. Mengingat persajakan pantun yang kita buat adalah ab-ab, kedua kata tersebut harus berbeda, terutama dalam hal suku kata terakhir.
.........................              (baris 1)
..........................             (baris 2)
...................... elok         (baris 3)
................. belajar         (baris 4)
Kedua, buat kalimat dengan kata-kata tersebut. Lakukan seperti menyusun kalimat biasa. Namun, kali ini harus memperhatikan syarat pantun (terdiri dari 8-12 suku kata). Nah, kata yang sudah kita pilih pada langkah 1 (elok, belajar) tersebut menjadi kata terakhir dalam kalimat yang kita buat.
.......................................            (baris 1)
.......................................            (baris 2)
Pantun ini memang tak elok     (baris 3)
Lantaran saya masih belajar     (baris 4)

Ketiga, cari kata terakhir sampiran (baris pertama dan baris ke-2). Kata tersebut menjadi kata terakhir dalam kalimat yang kita buat. Sesuai dengan syarat persajakan sebuah pantun (ab-ab), syarat mutlak untuk kedua kata tersebut adalah harus sesuai persajakannya dengan kata terakhir baris ke-3 dan ke-4. Kata terakhir baris pertama harus mengacu kepada kata terakhir baris ke-3, sedangkan kata terakhir baris kedua harus mengacu kepada kata terakhir baris ke-4.
Coba perhatikan suku kata terakhir di baris ketiga dan keempat, yaitu -lok dan -jar (dari kata e-lok, bel-a-jar). Suku kata inilah (-lok dan -jar) yang kita jadikan sebagai acuan untuk membuat sajak akhir baris pertama dan kedua.
Untuk mencari padanan kata yang bersuku kata akhir -lok, kita bisa memilih salah satu di antara sekian banyak kata, misal balok, golok, jolok, kelok, dan sebagainya. Untuk mencari padanan kata yang bersuku kata akhir -jar, kita bisa memilih salah satu diantara sekian banyak kata, misal banjar, kejar, ujar, wajar, jajar, dan sebagainya.
Lantas bagaimana jika kata yang kita cari sulit ditemukan? Misal, kita kesulitan mencari padanan kata yang bersuku kata akhir -lok dan -jar? Tidak masalah. Masih ada jalan keluar, yaitu dengan memodifikasi kata. Untuk kata yang bersuku akhir -lok, buang huruf l-nya sehingga kita hanya mengambil -ok. Demikian juga dengan -jar, buang huruf j-nya sehingga kita hanya mengambil -ar.
Sekarang, mari kita kembali ke contoh.
................... kelok          (baris 1)
........................ jajar      (baris 2)
Pantun ini memang tak elok  (baris 3)
Lantaran saya masih belajar (baris 4)

Keempat, buat kalimat dengan kata-kata tersebut (kelok dan jajar). Dengan demikian, jadilah pantun seperti berikut ini.

Katun bersulam pola berkelok              (baris 1)
Pola tersusun baris berjajar                  (baris 2)
Pantun ini memang tak elok                 (baris 3)
Lantaran saya masih belajar                 (baris 4)
Kelima, periksa kembali pantun yang sudah kalian buat. Sudahkah memenuhi syarat sebagai sebuah pantun? Sudahkah setiap untai (bait) terdiri atas empat larik (baris)? Sudahkah banyaknya suku kata tiap larik sama atau hampir sama (antara 8–12 suku kata)? Sudahkah sajak akhir setiap baris ab-ab atau aa-aa? Sudahkah ada sampiran (larik pertama dan kedua) dan isi (larik ketiga dan keempat)?
Jika syarat-syarat di atas sudah terpenuhi, berarti selesailah tugas kita menulis pantun. Nah, ternyata menulis pantun tidak sesulit yang dibayangkan, bukan?

E. Catatan
Disadari atau tidak, setiap jenis dan tema tertentu dalam sebuah pantun tentu akan punya kecenderungan memakai kata-kata tertentu. Kata-kata yang digunakan dalam pantun agama (pantun orang tua), biasanya akan berbeda dengan kata-kata yang sering dipakai dalam pantun percintaan (pantun remaja) maupun dalam pantun bersukacita (pantun anak-anak).
Berikut contoh kata-kata yang sering digunakan dalam pantun sesuai dengan jenis atau kelompok pantun.
Pantun anak:
a. Bersukacita: bagus, bahagia, bernyanyi, ceria, enak, gembira, girang, indah, kenyang, lega, nikmat, sukacita, sukaria, manja, puas hati, riang, senang, dan sebagainya.
b. Berdukacita: berduka, berpulang, bersedih hati, buruk, bimbang, cemas, dibenci, ditinggalkan, duka, dukacita, fakir, gelisah, gundah, iba, ibu tiri, kecewa, kesal, lara, masygul, mati, melarat, menangis, merana, miskin, muram, murung, nestapa, papa, piatu, pilu, sebatang kara, sedih, sedu, sendiri, susah hati, tangis, wafat, yatim, dan sebagainya.
Pantun remaja/dewasa:
a. Nasib/dagang: apes, bahagia, bandar, berlabuh, celaka, dagang, dermaga, garis hidup, jual, melarat, menderita, merana, mujur, negeri orang, nakhoda, nasib, niaga, pangkalan, perahu, perantau, peruntungan, petualang, rantau, rezeki, rugi, saudagar, sengsara, sial, suratan, susah, takdir, untung, dan sebagainya.
b. Perkenalan: anggun, berkenalan, bertanya, cantik, elok, gagah, jelita, kenal, manis, menawan, mengenal, molek, rupawan, tampan, dan sebagainya.
c. Berkasih-kasihan: adinda, asmara, berahi, cinta, cium, dinda, hasrat, hati, jantung hati, jatuh hati, kalbu, kakanda, kanda, kangen, kasih, kasmaran, kecup, kekasih, kembang, kesuma, kumbang, mabuk kepayang, merayu, puspa, puspita, putri, rayu, rindu, sayang, sunting, terjerat, terpesona, terpikat, terpukau, tertambat, tertawan, dan sebagainya.
d. Perceraian: air mata, berduka, bimbang, cedera, cerai, gagal, hampa, hancur, hilang, kandas, kecewa, lebur, lenyap, luntur, menangis, meratap, musnah, padam, patah, pergi, pudar, pupus, putus, ragu, sedih, sesal, sirna, tangis, tercampak, dan sebagainya.
Pantun orang tua:
a. Nasihat: alim, amanah, angkuh, arogan, berbudi, benar, benci, bohong, congkak, dengki, dendam, hasad, hikmat, hina, ilmu, ikhlas, iri, jahat, jujur, keji, khianat, khilaf, licik, lurus, maaf, menyesal, pandai, pongah, rela, sesal, sombong, takabur, tulus, dan sebagainya.
b. Adat: adat, aturan, berbudi, bertuah, datuk, hormat, imam, leluhur, penghulu, perangai, pusaka, santun, sembah, simpuh, tradisi, tabiat, takzim, tetua, undang-undang, dan sebagainya.
c. Agama: agama, akhirat, akhlak, ampun, azab, celaka, dosa, dunia, ingat, kubur, malaikat, mati, maut, neraka, nyawa, puasa, selamat, sembahyang, sengsara, surga, taubat, tawakal, tua, Tuhan, umur, usia, dan sebagainya.
Salah satu syarat pantun yang baik adalah memiliki persajakan yang indah. Oleh karena itu, kekayaan kosakata adalah salah satu modal penting dalam menulis pantun. Dengan kekayaan kosakata yang kita miliki, kita bisa memilah kata mana saja yang kira-kira tepat untuk sebuah pantun sehingga pantun yang kita tulis memiliki persajakan yang indah.
Mengingat kosakata adalah salah satu hal yang harus diperhatikan dalam menulis pantun, setelah selesai menulis pantun tidak ada salahnya jika kita memeriksa kembali daftar kosakata apa saja yang dipakai dalam pantun yang sudah kita tulis. Kira-kira sudah sesuai atau cocokkah kosakata tersebut dengan jenis atau tema pantun tyang kita tulis? Jika belum sesuai, tidak ada salahnya untuk menggantinya dengan kata-kata yang dirasa lebih cocok.
Cenderawasih
Burung Irian
Terima kasih
Cukup sekian

Eko Sugiarto, editor dan penulis lepas. Tinggal di Yogyakarta.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Cara Mudah Menulis Pantun"

Post a Comment