Jejak Diplomasi Raja Salman

Winarto

Kunjungan Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz al Saud atau akrab disapa Raja Salman, beberapa waktu lalu, sempat membuat heboh, khususnya di kalangan umat Islam. Pasalnya, Raja Salman membawa rombongan superbesar.
Ada kurang lebih 1500 delegasi dari berbagai elemen, mulai dari para pangeran, menteri, pengusaha hingga pengawal. Belum lagi beragam peralatan (perlengkapan) yang dibawa. Namun kedatangannya, juga menanamkan investasi dengan nilai yang fantastis.
Kedekatan Indonesia - Arab tak hanya dalam hubungan antardua negara, tapi juga diikat oleh hubungan agama. Keduanya negara besar dalam dunia Islam. Arab Saudi merupakan tempat lahir Nabi Muhammad SAW dan kota risalah Islam diturunkan. Sementara Indonesia, adalah negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia.
Posisi Raja Salman sebagai Khadim al Haramain asy-Syarifain, sangat strategis. Yaitu untuk menyatukan seluruh umat Islam dari segala penjuru dunia, termasuk di Indonesia. Pertama, Makkah, merupakan tempat berlangsungnya berbagai ritual ibadah Haji dan Umrah. Kedua, Madinah. Ini adalah kota tempat dimakamkannya Rasulullah Muhammad SAW.
Dua kota ini memiliki peran sentral bagi umat Islam. Karena apapun aliran dan golongannya, mereka sama-sama melaksanakan ibadah haji di Makkah dan menyempatkan diri berkunjung ke makam Nabi di Madinah.
Pendek kata, Indonesia dan Arab Saudi, ini disatukan oleh Islam. Selain itu, ajaran Islam bahwa sesama Muslim adalah bersaudara, tentu kian mendekatkan hubungan antara kedua negara ini, kendati secara teritorial, sangat berjauhan.
Kedekatan yang ada inilah, tak heran jika kemudian penghormatan atas kedatangan Raja Salman, terekspresi dalam beragam hal. Misalnya, baik secara inisiatif pribadi maupun terorganisasi, ribuan umat memadati tepi jalan yang dilewati mobil Sang Raja, dari Bandara Halim Perdanakusuma menuju Istana Bogor.
Kebiasaan penyambutan ini sudah lazim dilakukan oleh masyarakat muslim Indonesia. Inilah sebagian cara memuliakan tamu, sebagaimana sabda Nab Muhammad SAW, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tamu” (H.R. Muslim).
Peneguh Islam Moderat
Selain itu, pertemuan khusus antara Raja Arab Salman dengan sejumlah tokoh Agama Islam di Istana Merdeka, cukup memberi alasan secara teologis, untuk mempertemukan dan menyatukan mereka.
Secara formal, bentuk kebersamaan itu diwujudkan dalam nota kesepahaman bersama. Berdasarkan pernyataan Menteri Agama, Lukman Hakim Saifudin, kedua Negara memiliki kepedulian yang sama, untuk berkontribusi menjaga dan melindungi peradaban dunia, dan mengedepankan Islam moderat. Hal itu tertuang dalam nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani di Istana Bogor.
MoU tersebut menegaskan kembali, Indonesia - Arab berkomitmen terhadap gagasan Islam moderat, yang selama ini sudah dicanangkan pemerintah. Baik melalui program formal maunpun informal. Di Indonesia, wajah Islam toleran, telah dibumikan oleh beberapa organisasi keagamaan seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.
Alasan-alasan itu, turut mewarnai diplomasi Indonesia - Arab. Kedua negara memiliki tujuan  yang sama, yakni agar terciptannya kehidupan beragama yang humanis, beradab, serta mampu membawa rakyat meraih kesejahteraan dan kedamaian. (*)
Winarto S.Th.I. M.S.I.,  
Adalah dosen Fakultas Syariah IAIN Surakarta. Penulis bisa dihubungi melalui e-mail: winvenuz2@gmail.com.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Jejak Diplomasi Raja Salman"

Post a Comment