Teladan Sang Mujtahid Islam Nusantara

Judul:  Sang Mujtahid Islam Nusantara (Novel Biografi KH. A. Wahid Hasyim)
Penulis: Aguk Irawan MN.
Kata Sambutan: Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla
Pengantar: KH. Husein Muhammad & Anis Sholeh Ba’asyin
Penerbit: Imania
Halaman: 608
Cetakan I: Agustus 2016
ISBN: 978-602-7926-27-1

Harus diakui, energi Aguk Irawan menulis ‘serial’ tokoh bangsa dalam bentuk novel, sangat luar biasa. Paling tidak, itu ditunjukkan dengan lahirnya tiga karya menumentalnya, yakni Sang Penakluk Badai (biografi KH. Hasyi’ari), Peci Miring (biografi KH. Abdurrahman Wahid/ Gus Dur), dan yang teranyar adalah Sang Mujtahid Islam Nusantara (biografi KH. A. Wahid Hasyim).
Sang Mujtahid Islam Nusantara, novel biografi KH. A. Wahid Hasyim yang baru dirilis sekitar tiga bulan terakhir, menjadi pelengkap dua novel Aguk sebelumnya. Sebagaimana dua buku sebelum ini, buku ini pun berisi keteladanan hidup yang menjadi pelajaran berharga bagi generasi muda Indonesia sekarang dan yang akan datang.
 Banyak keteladanan yang bisa digali dari diri Kiai Wahid, ayahanda Gus Dur, yang bisa disimak dari buku Sang Mujtahid Islam Nusantara ini. Antara lain perhatiannya yang begitu besar terhadap pendidikan, selain tentu belajar kepada ayahdanya sendiri, yakni Hadratusy Syaikh KH. Hasyim Asy’ari.
Beberapa  pesantren yang disinggahinya untuk melakukan pengembaraan intelektualnya, antara lain Pesantren Hamdaniyah di Siwalan (Sidoarjo), Lirboyo (Kediri), serta pesantren-pesantren lain di Madiun, Pasuruan, Lamongan, Mojokerto, dan Jombang sendiri. (hal. 285-295)
Perhatiannya akan ilmu dan pendidikan, juga tidak untuk dirinya sendiri, melainkan bagi umat secara luas. Memikirkan ummat secara luas melalui pendidikan itulah, yang menjadi salah satu insoirasi baginya mendirikan Madrasah  Nizamiah. (hal. 389-395)
Namun tidak hanya bidang pendidikan saja, perhatian tokoh bangsa yang kelak menjadi Menteri Agama itu. Wahid Hasyim begitu peduli terhadap persatuan umat. Itu diwujudkan dengan membentuk Majelis Islam A’laa Indonesia (MIAI) bersama tokoh-tokoh lain, seperti Kiai Muhammad Dahlan, Kiai Mas Mansur, dan Tuan Wondoamiseno. (Hal. 448)
Perjuangan KH. Wahid Hasyim untuk Indonesia merdeka, pun tak bisa dipandang sebelah mata. Aia adalah salah satu anggota Badan Usaha Penyelidik Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).
Akan tetapi, tidak itu saja perhatian dan perjuangannya bagi negeri ini. Karena Wahid Hasyim pula, ternyata, yang membentuk laskar santri untuk mendukung perjuangan melawan penjajah, yang kemudian dikenal dengan nama Laskar Hizbullah. (Hal. 557)
Besarnya peran dan perjuangan KH. Wahid Hasyim itu, tak heran jika sosok ini pun mendapatkan apresiasi dan tempat tersendiri di hati rakyat Indonesia. Salah satunya, adalah pengakuan Wakil Presiden RI, Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla (JK).
Dalam pengantarnya di buku Sang Mujtahid Islam Nusantara karya Aguk Irawan ini, JK mengemukakan, bahwa kontribusi KH. A. Wahid Hasyim bagi bangsa sangat besar, baik dalam aspek keislaman, pendidikan, maupun politik. (hal. 7)
Apresiasi lain dikemukakan KH. Husein Muhammad. Dalam pengantarnya, ia menyebut KH. A. Wahid Hasyim sebagai pembaharu, yang membawa pemikiran-pemikiran keislaman progresif dan modern, tanpa kehilangan jati dirinya sebagai kiai pesantren. (hal. 12)
Banyak keteladanan yang bisa digali dari sosok, kiprah dan perjuangan KH. A. Wahid Hasyim bagi Islam, pesantren dan bangsa ini melalui novel terbaru Aguk Irawan ini. Maka, buku ini menjadi referensi yang teramat penting, tidak saja bagi kalangan nahdliyyin (warga Nahdlatul Ulama/ NU), juga bagi seluruh rakyat di negeri ini. (*)
ROSIDI, penggiat literasi, staf Humas Universitas Muria Kudus (UMK) & pengurus Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kudus.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Teladan Sang Mujtahid Islam Nusantara "

Post a Comment