Teater Indonesia: Kompromi atau Melawan Arus Perkembangan Dunia Tontonan?

TEATER sebagai salah satu bentuk media kreatif yang diselenggarakan untuk mereflesikan kebudayaan. Sebagai jenis seni, teater terbentuk secara kolektif dari ragam jenis kesenian lainya (tari/gerak, musik, sastra dan seni rupa) diluar seni peran (akting), yang menjadikan seni teater dipandang sebagai bentuk yang paling ekspresif dalam mentranformasikan gagasan kepada audien (penonton).
Sehingga seni teater memiliki fungsi sebagai media komunikasi antara sumber gagasan kepada komunikan  (penonton). Peristiwa inilah yang kemudian mengerucutkan perspektif tentang seni teater sebagai peristiwa budaya, dimana dalam sebuah proses pertunjukan teater terjadi ruang pertemuan realita objektif (kenyataan semesta) sebagai sumber gagasan, pelaku teater (penyaji pertunjukan) sebagai penyampai/ komunikator dan penonton sebagai komunikan(penerima informasi).
Disisi lain seni teater keberadaanya lebih ditempatkan pada ruang edukasi publik, hal ini merujuk pada dasar pemikiran yang telah dirumuskan oleh Ki Hajar Dewantoro dalam mensikapi perkembangan seni teater di negeri ini. Menurut sang guru besar bangsa ini, teater didevinisikan menggunakan istilah sandiwara penggabungan dari kata Sandi (simbol/ misteri) dan wara/ warah (informasi/ ajaran).
Dari sinilah kemudian yang menjadi pijakan bahwa seni teater adalah sebagai bagian dari public learning yang merupakan bentuk kongkrit dari peristiwa budaya itu sendiri. Seni teater dipandang mampu sebagai media edukasi alternatif yang berjalan pada ranah seni pertunjukan.
Karena dalam peristiwa pertunjukan teater para penyaji pertunjukan sangat mungkin secara bijak menyisipkan atau bahkan menyajikan misi edukasi pada public sebagai komunikannya. Disamping itu pula dalam proses pertunjukan teater sangat pantas dipersepsikan sebagai peristiwa budaya, karena dalam sebuah pertunjukan seni teater menyentuh pada ranah perkembangan intelektual, spiritual serta estetika individu, kelompok atau masyarakat.
Bila sejenak kita menengok kembali kepada peradaban dimasa lalu, dunia seni pertunjukan bangsa ini ditengarai sudah mulai berkembang sejak zaman majapahit atau sekitar tahun 930an yang ditandai dengan adanya prasasti wimalarasma yang memberikan keterangan bahwa pada masa itu sudah dilakukan peristiwa pertunjukan cerita meskipun baru sebatas mereduksi pada kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana.
Kemudian seiring dengan perkembangan jaman dan tehnologi seni pertunjukan pun secara tehnis berasimilasi dan berelaborasi dengan keduanya. Sehingga sampai pada jaman sekarang dunia pertunjukan secara market mampu secara mudah hadir kepada penonton.
Hal ini dapat kita buktikan dengan semakin berkembangnya film televisi serta cinema elektronik yang secara seporadis memasuki ruang keluarga maupun individu melalui layar televisi dan sosial media lainya.
Perkembangan ini bukan semata-mata menjadi kabar gembira, akan tetapi adahal yang perlu direnungkan serta dikaji ulang. Adalah persoalan pengkikisan terhadap nilai dan peristiwa budaya bagi suatu bangsa.
Dari perkembangan tehnologi yang hadir secara instans kepada masyarakat ini menjadikan masyarakat secara masif dan tanpa sadar menempatkan diri sebagai penerima produk budaya. Sehingga apa yang dipahami oleh masyarakat tentang kebudayaan menjadi lebih mereduksi pada produk kebudayaan bukan peristiwa kebudayaan.
Dari sini dapat dipahami secara realitas obyektif dari gaya hidup (life style) masyarakat sebagian besar dipengaruhi oleh informasi yang diterima dari apa yang mereka tonton. Dengan kata lain, masyarakat menjadi begitu konsumtif terhadap produk-produk kebudayaan yang secara intens hadir kepada mereka dan menempakan masyarakat bukan lagi sebagai bagian dari proses peristiwa budaya itu sendiri.
Hal ini tidak bisa dipungkiri, sebagai bukti nyata bahwa apa yang mampu hadir secara intens dilayar televisi akan menjadi hal yang begitu populer dan paling banyak dibicarakan, digandrungi bahkan menjadi tolok ukur perilaku sosial bagi mayoritas masyarakat. Kehadiran tontonan yang semestinya dinikmati sebagai hiburan justru mampu merebut serta mengubah gaya hidup masyarakat.
Sehingga yang terjadi secara masal masyarakat penonton terjerumus atau sengaja menjerumuskan diri dalam ruang fanatik. Yang mereka simak bukan lagi sebatas tontonan itu semata, akan tetapi setiap sesuatu yang menjadi pendukung dari tontonan yang mereka gemari, ditarik ke dalam kehidupan mereka untuk dibicarakan dan diikuti. Sehingga baik nilai budaya maupun produk budaya banyak bermunculan dan mewarnai perilaku sosial dan tatanan masyarakat.
Berangkat dari permasalahan inilah seyogyanya bagi masyarakat teater(pelaku dan pekerja seni teater), mampu menempatkan diri dan karya yang mereka hasilkan sebagai hal yang mampu memberi titik terang dalam polemik yang sedang menggejala dalam kehidupan bangsa ini.
Seni teater diharapkan mampu memberi andil dalam mensikapi kenyataan yang sedang berlangsung melalui sikap dan kebijakan berkesenianya. Sehingga yang kemudian mesti dilakukan adalah melakukan kompromi atau secara tegas untuk melawan arus perkembangan dunia tontonan yang secara perlahan tapi pasti mencabut nilai-nilai budaya bangsa dari akarnya. (*)
Saliem Sabendino,
Pemerhati teater dan bergiat di Teater Sokosiji Kudus. Penulis bisa dihubungi melalui e-mail: Saliemsabendino@gmail.com dan saliem_salam3djari@yahoo.co.id


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Teater Indonesia: Kompromi atau Melawan Arus Perkembangan Dunia Tontonan?"

Post a Comment