TBS Beri Sumbangsih Luar Biasa Kembangkan Dakwah

Jakarta, Bekanews.com – Merayakan Hari Lahir (Harlah) ke-91, madrasah Tasywiquth Thullab Salafiyyah (TBS) mendapatkan apresiasi banyak kalangan. Salah satunya datang dari tokoh Nahdlatul Ulama (NU), Dr. (HC.) As'ad Said Ali, baru-baru ini.
Dia menyampaikan, kehadiran madrasah TBS Kudus sejak 1928 atau dua tahun setelah kelahiran NU, selain melahirkan tokoh-tokoh NU di level regional maupun nasional, juga telah memberikan sumbangsih luar biasa dalam pengembangan dakwah Islam, khususnya di Kabupaten Kudus dan sekitarnya.
‘’Lulusan TBS yang ketika Saya kecil dikenal dengan madrasah Baletengahan, kini tersebar di seluruh desa di Kabupaten Kudus dan wilayah-wilayah yang berbatasan (dengan Kota Kretek), sehingga mampu mewarnai dan menggelorakan kehidupan keagamaan di daerah itu,’’ ungkapnya.
Mantan wakil kepala Badan Intelijen Nasional (BIN) itu menilai, TBS mulai masyhur sebagai rujukan thalabul Ilmu sejak akhir 1950-an, sejajar dengan madrasah Krapyak, Yogyakarta. ‘’Ketika Saya belajar di madrasah Al-Huda di kampung, pengajarnya ada yang belajar di Baletengahan,’’ kenangnya.
Lebih lanjut As’ad mengemukakan, TBS merupakan madrasah yang berkembang secara gradual tetapi mantap (konsisten), baik dari segi animo orang tua mengirim anaknya untuk menimba ilmu di sana, maupun dalam hal pengembangan kurikulum. 
‘’Mengamati perkembangan madrasah TBS, sebagai orang yang lahir dan besar di Kabupaten Kudus, Saya tidak malu, bahkan bangga ketika menyebut nama TBS. Kemajuan pesat TBS, tidak terlepas dari para muassisnya, antara lain Kiai Nur Khudrin dan Kiai Abdul Muchid,’’ paparnya.
Semangat Pembaruan
As’ad Said Ali yang menjabat wakil ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2010-2-15 itu, mengutarakan, para muassis TBS sejak awal mewarisi semangat pembaruan pendidikan pesantren sebagaimana dipesankan KH. A. Wahid Hasyim, yang mengawali pembaruan di pesantren Tebuireng, Jombang.
‘’Sekitar tahun 1960-an, ketika Saya masih remaja, seandainya madrasah TBS sudah seperti sekarang perkembangannya, almarhum Bapak pasti mengirim Saya belajar di Baletengahan (TBS-Red). Bapak ingin Saya bisa Bahasa Inggris seperti lulusan Pondok Gontor. Kebetulan Bapak kenal baik dengan almarhum KH. Turaichan Adjhuri (Mbah Tur),’’ lanjutnya.
As’ad menceritakan, saat dirinya kecil, Gontor menjadi pilihan karena dianggap modern dan sesuai kemajuan zaman. ‘’Namun sekarang remaja di Kudus tidak perlu ke luar daerah. TBS memiliki kelebihan yang tidak banyak dipunyai pesantren lain. Selain kemampuan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris, para santrinya juga dididik agar menguasai kitab kuning,’’ terangnya.
Tokoh NU kelahiran Kudus ini menegaskan, TBS adalah contoh madrasah  yang sukses memadukan pengajaran kitab kuning dan kebutuhan ilmu lain yang dibutuhkan oleh zaman. ‘’Untuk itu, memperingati Harlah ke-91 madrasah TBS, Saya sampaikan selamat. Alf mabruk bi 'idi miladukum. Semoga para pengasuh tetap istiqamah berjihad di jalan Allah SWT.,’’ do’anya sembari berharap. (Syafi’i

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "TBS Beri Sumbangsih Luar Biasa Kembangkan Dakwah "

Post a Comment