Rekam Jejak Perjuangan Bung Hatta

Judul Buku: Untuk Negeriku, Sebuah Otobiografi
Penulis: Mohammad Hatta
Editor: Mulayawan Karim
Penerbit: Penerbit Buku Kompas
Tahun: Cetakan IV, 2014
Tebal: 746 halaman
Salah satu pahlawan pendiri bangsa, yang berpengaruh dalam perjuangan mencapai kemerdekaan adalah Mohammad Hatta, atau kerap disapa Bung Hatta. Publik barangkali lebih akrab dengan nama Bung Karno ketimbang Bung Hatta. Namun, justru karena itulah, menjadi menarik untuk menelisik perjalanan hidup wakil presiden pertama republik Indonesia ini.
Buku berjudul Untuk Negeriku, Sebuah Otobiografi ini ditulis sendiri oleh Bung Hatta. Awalnya naskah buku ini sangatlah tebal, hingga akhirnya diterbitkan menjadi tiga jilid; Bukittinggi-Rotterdam Lewat Betawi,  Berjuang dan Dibuang, dan terakhir Menuju Gerbang Kemerdekaan. Pembagian menjadi tiga jilid ini menjadikan lebih fokus pada masing-masing tahap perjalanan hidup seorang Bung Hatta.
Jilid pertama, yang berjudul Bukittinggi-Rotterdam Lewat Betawi fokus pada kisah kanak-kanak Bung Hatta. Lebih tepatnya bagaimana perjalanan pendidikan beliau dari kecil. Bung Hatta lahir di Bukittinggi, 12 Agustus 1902 dari pasangan H Mohammad Djamil dan Sholeha. Pendidikan beliau waktu kecil lebih banyak diisi tentang pendidikan agama di tempat kelahirannya. Hal ini terlihat dari kegiatan mengaji yang biasa beliau lakukan ketika kecil.
Kemudian, beliau masuk ke sebuah sekolah Belanda di Padang. Selanjutnya, pendidikannya dilanjutkan ke Jakarta. Di sana, jiwa pergerakan sudah mulai nampak lewat kiprahnya dalam memimpin penerbitan sebuah majalah untuk pelajar.
Majalah tersebut banyak berisi seruan-seruan melawan kolonialisme negara penjajah waktu itu. Setelah dari Jakarta inilah, baru kemudian Bung Hatta mulai berkutat dengan dunia ekonomi dan politik ketika mendapatkan beasiswa di Rotterdam, Belanda.
Kiprah Bung Hatta dalam perjuangan kemerdekaan semakin terlihat dalam jilid kedua yang berjudul Berjuang dan Dibuang. Dari judulnya, sudah terlihat bagaimana tekad seseorang yang begitu besar untuk berjuang demi kemerdekaan bangsanya, meskipun harus merasakan yang namanya dibuang atau diasingkan.
Perjuangan ini sendiri dimulai ketika Bung Hatta pulang dari Rotterdam usai mengenyam pendidikan di sana. Di Indonesia, beliau semakin aktif dalam berbagai pergerakan, baik dalam dunia politik maupun dalam dunia jurnalistik lewat tulisan-tulisannya.
Tentang kisah pembuangan, hal itu terjadi ketika beliau melakukan lawatan ke Jepang dengan pamannya untuk berdagang. Karena motivasi yang kuat untuk melakukan pergerakan dan memahami perekonomian, kegiatan berdagang ini juga diiringi dengan keinginan mengetahui perkembangan ekonimi di Jepang.
Alhasil, pergerakan tersebut terendus oleh pemerintah Hindia Belanda dan beliau akhirnya dibuang di Digul pada tahun 1935. Kemudian, beliau harus dipindahkan dari Digul ke Banda Neira pada 1935. Tak berhenti sampai di sana, pada 1942, Bung Hatta kembali dipindahkan ke Sukabumi.
Perjuangan yang berat akhirnya sampai pada satu titik cerah yang kelak menjadi sejarah. Hal ini terangkum dalam jilid ketiga bertajuk Menuju Gerbang Kemerdekaan. Bagian ini mendedahkan saat-saat ketika tentara Jepang mulai datang dan mengusir kependudukan tentara Belanda. Kemunduran tentara Belanda kepada Jepang menjadi titik awal perjuangan mencapai kemerdekaan Indonesia.
Meskipun begitu, perjuangan mencapai kemerdekaan bukan berhenti sampai di sana. Tentara Jepang yang baru datang menggantikan pendudukan Belanda menjadi lawan selanjutnya yang harus dihadapi. Pejuangan terus berlangsung dalam pendudukan tentara Jepang. Sampai terjadi perang Pasifik yang pecah. Puncaknya, ketika Kota Hirosima di Jepang luluh-lantah oleh bom atom tepatnya pada 6 Agustus 1945.
Momentum ini tidak disia-siakan oleh para pejuang untuk mengambil langkah yang cepat. Bung Hatta dan Tuan Maeda segera membahas tentang penulisan teks proklamasi kemerdekaan. Di hari-hari yang genting itu, prosesi kemerdekaan berlangsung.
Akhirnya, perjuangan itu mencapai puncaknya pada 17 Agustus 1945 dengan dibacakannya teks proklamasi oleh Bung Karno di Jakarta. Meskipun setelah itu masih terjadi berbagai pertempuran mempertahankan kemerdekaan di berbagai daerah di Nusantara.
Buku tiga jilid ini menjadi rekam jejak Bung Hatta dalam memahami perjalanan bangsa ini. Perjuangan dari Bung Hatta menjadi bukti bahwa apa yang telah sama-sama kita rasakan saat ini, bukanlah sesuatu yang didapat dengan mudah. Ada perjuangn panjang dibaliknya, yang harus kita ingat, kita hargai dan kita  resapi, untuk selanjutnya kita jadikan kekuatan dalam menghadapi perjalanan bangsa yang semakin sulit ke depan. (*) 
Al-Mahfud,
Penulis dan penikmat buku asal Kabupaten Pati, Jawa Tengah

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Rekam Jejak Perjuangan Bung Hatta "

Post a Comment