Pesan Damai Kiai Hasyim Muzadi

Winarto
KH. Hasyim Muzadi, mantan Ketua Umum PBNU dua periode, kini telah tiada. Namun nilai-nilai, ajaran dan wejangannya akan senantiasa melekat dalam sanubari putra bangsa, khususnya di kalangan Nahdlatul Ulama (NU).
Ketokohan dan kecintaan Kiai Hasyim kepada NU, tak perlu diragukan. Ini dibuktikan dengan amanah yang diembannya dalam kurun waktu yang sangat panjang ‘berdinas’ di NU sejak muda, mulai dari tingkat ranting di Malang, Jatim hingga menjadi menjabat Ketua Umum PBNU.
Selain aktivitasnya memimpin organisasi, Kiai Hasyim juga produktif menulis, di antaranya NU Pasca Gus Dur, Menyembuhkan Luka NU, dan NU di Tengah Agenda Persoalan Bangsa.
Berbagai tugas yang pernah diamanahkan dan karya-karya itu, menjadi penanda kedalaman ilmu sosok yang memiliki nama lengkap A. Hasyim Muzadi. Prof. Dr. Mahfud MD menyebut Kiai Hasyim sebagai seseorang yang bicaranya kalem tapi substansial. KH. Sa'id Aqiel Siradj mengatakan, Hasyim adalah sosok yang penuh keteladanan (uswah hasanah).
Keluasan ilmu yang dimiliki, semakin lengkap dengan kematangan berorganisasi, sehingga ia tidak saja berkhidmat di bidang agama saja, bahkan menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).
Kiai Hasyim dikenal memiliki pandangan keislaman yang mampu menyatukan berbagai kelompok, termasuk kelompok Islam radikal dan liberal. Walaupun Hasyim Muzadi tokoh NU, namun dia tidak hanya memikirkan NU.
Dalam mengambil peran itu, ia hadir di tengah-tengah kelompok yang beragam dengan lembut dan toleran, sehingga diterima banyak pihak, termasuk non muslim sekalipun. Ia mampu menghadirkan Islam yang damai dan rahmat bagi kemanusiaan.
Dengan kata lain, persoalan keagamaan dan kebangsaan, tak luput dari perhatiannya. Kesediaan menjadi anggota Wantimpres di usia yang sudah sepuh, menjadi bukti kesetiaannya dalam membangun bangsa. Dan di ranah intelektual (pemikiran), ia menghadirkan sebuah karya berjudul "NU di Tengah Agenda Persoalan Bangsa" pada 1999.
Di level global, kemampuan Kiai Hasyim juga diakui. Itu dibuktikan dengan kiprahnya di Konferensi Dunia Agama untuk Perdamaian (World Conference on Relegion for Peace/ WCRP). Ia juga sukses ‘mengawal’ gelaran Internasional Conference of Islamis Scholar (ICIS) pada 2004 dan 2006.
Kiai Hasyim Muzadi kini memang telah tiada. Namun pemikiran dan ajaran-ajarannya akan selalu dikenang dan dilanjutkan oleh para generasi bangsa ini, yakni membumika Islam yang ramah dan toleran. Wallahu a’lam. (*)
Winarto,
Penulis adalah dosen Fakultas Syariah IAIN Surakarta. Ia bisa dihubungi di HP. 085-740-974-546 atau melalui e-mail: winvenuz2@gmail.com.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pesan Damai Kiai Hasyim Muzadi"

Post a Comment