Pemuda, Bergeraklah !!!

Amin Fauzi

Pada tiga dekade ke depan, mayoritas umur penduduk Indonesia diprediksikan berada usia yang masih produktif, dengan proporsi 69% dari jumlah penduduk Indonesia, atau para pakar demografi menyebutnya sebagai bonus demografi.
Artinya, rasio angka ketergantungan (dependency ratio) penduduk mencapai titik terendah. Pada saat itu, jumlah angkatan kerja sangat besar, mereka hanya menanggung beban kelompok usia anak dan lansia yang sangat kecil.
Pada posisi seperti ini, sebenarnya Indonesia berada di persimpangan jalan, bonus demografi itu bagai pisau bermata dua, satu sisi bisa menjadi window of opportunity (peluang) kalau dimanfaatkan dengan baik, di sisi lain justru akan menjadi window of disaster (petaka) kalau perkembangannya tidak dikelola dengan baik pula.
Usia produktif itu bisa menjadi peluang yang menjanjikan kalau mereka mendapatkan lapangan kerja yang memadai. Akan tetapi, mereka bisa jadi malah jadi petaka jika tidak punya aktifiktas yang produktif sama sekali.
Sebab, di usia produktif, beban konsumsinya justru lebih tingggi. Kalau tidak diantisipasi, justru patologi sosial yang akan terjadi. Sebagian usia produktif adalah usianya para pemuda. Berarti pada tangan pemuda lah letak masa perekonomian bangsa ini pada tiga dekade ke depan.
Makanya, salah satu cara untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk bonus demografi itu, adalah dengan menanamkan wirausaha sejak dini, agar kelak kalau sudah berusia muda, sudah punya modal mental maupun ketrampilan untuk menjalankan usaha secara mandiri.  Sebab, kalau terus mengandalkan pekerjaan di sektor formal,  jangkauannya terbatas. Sektor informal yang saya kira bisa menjadi penggerak utama roda perekonomian masyarakat.
Persoalannya, bagaimana memberikan kesadaran kepada masyarakat agar punya ketertarikan untuk berwirausaha secara mandiri. Masalah ini yang hingga kini masih belum menjadi ketertarikan massal oleh masyarakat. Sebab, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah wirausaha di Indonesia pada tahun 2012 hanya mencapai 1,56 persen dari jumlah penduduk Indonesia.
Ironis. Apa pasal? Karena sebagian banyak orang tidak mempunyai keberanian untuk memulai berwirausaha, sehingga banyak orang lebih memilih menjadi pekerja di sektor formal dari pada berwirausaha secara mandiri.
Oleh karena itu, untuk menanamkan jiwa wirausaha kepada masyarakat, hal yang perlu dibentuk adalah mentalitasnya terlebih dahulu. Sebab, proses menjalankan usaha pasti ada pasang surutnya, kalau tidak dikuatkan mentalnya, dikhawatirkan akan patah arang saat usahanya sedang surut.
Pembentukan mental tidak semudah membalikkan telapak tangan, butuh proses panjang, karena keterkaitannya dengan landasan fundamental. Oleh karena itu, penanaman jiwa wirausaha sejak dini adalah suatu keniscayaan.
Persoalannya, siapa dan dimana pihak yang berperan dalam menghembuskan spirit mental kewirausahaan ini? Pihak keluarga dan sekolah yang saya kira punya peranan penting sebagai medium transfer spirit ini.
Sebab, pembangunan mental tidak hanya selesai pada teori, namun juga tindakan yang aplikatif. Kedua intitusi itu yang saya kira bisa saling berkerjasama secara integral  untuk saling mendukung pembentukan mental entrepreneurship ini.
Pertama, di tingkat sekolah, siswa perlu diberikan pemahaman yang luas mengenai dunia kewirausahaan secara luas, wawasan yang bisa merangsang siswa agar tertarik menggeluti dunia ini.
Sudah saatnya sejak dini siswa di sekolah sudah dikenalkan tentang dunia usaha secara provokatif, sehingga menginspirasi siswa untuk bergelut di dunia ini kelak di waktu yang tepat. Bukan berarti mengajarkan siswa untuk bersifat pragmatis dan meteralistis, tapi sebagai bekal pengenalan.
Di tingkat sekolah formal saat ini, jarang sekali siswa ditunjukkan profesi wirausahawan, banyak yang mengemuka adalah profesi yang sifatnya formal, seperti pilot, polisi, guru, dokter, dan sebagainya.
Bukan berarti salah, tapi pengenalan itu lambat laun akan membentuk pikiran anak, dan pada akhirnya menjadi sebuah cita-cita. Terbukti, ribuan sarjana yang lulus dari perguruan tinggi setiap tahun yang berlomba-lomba menjadi pegawai di intansi pemerintah maupun swasta, sedikit sekali prosentasenya yang berinisiatif untuk berwirausaha.
Oleh karena itu, di sekolah dasar, penanaman nilai-nilai wirausaha bisa dintegrasikan dalam setiap mata pelajaran yang diajarkan, baik bahasa Indonesia, agama,  ilmu pengetahuan alam (IPA), ilmu pengatahuan sosial (IPS), dan sebagainya, baik melalui teori maupun melalui praktek.
Misalnya, praktek dalam pelajaran bahasa Indonesia, siswa diajak berkunjung di suatu tempat usaha terdekat, siswa diminta mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai obyek usaha itu, setelah itu siswa diminta menulis mengenai pengalaman kunjungannya tersebut.
Ajaran agama juga banyak mengajarkan tentang bagaimana praktek berirausaha, pelajaran ini juga perlu dipraktekkan. Begitu juga pelajaran pada ekonomi, sosial, akuntansi kelak kalau sudah menginjak di SMP dan SMA. Siswa perlu diajarkan praktek dalam setiap meta pelajaran.
Meskipun demikian, sekolah tetap harus menjadi benteng pembangunan moralitas kepada siswanya. Penanaman wirausaha ini tidak semata menganut prinsip untung yang sebanyak-banyaknya, tapi tetap disertai dengan nilai tanggung jawab dan kemanusiaan. Sehingga diharapkan proses wirausaha yang dijalankan tetap bersih, bukan manipulatif.
Kedua, melalui orang tua. Wirausaha butuh proses kreatif dan inovatif, di sela penanaman nilai di sekolah, sebenarnya yang paling efektif adalah penanaman wirausaha melalui orang tua. Secara informal, orang tua bisa membentuk pribadi anak secara leluasa, bukan hanya teori, tapi melalui praktek langsung.
Misalnya, orang tua bisa mengajak anaknya berkunjung di tempat-tempat usaha, sehingga anak lebih akrab dengan proses berwirausaha, bukan hanya tahu hasilnya saja.
Secara aplikatif, anak juga bisa diajak untuk memelihara binatang ternak, seperti ayam, itik, dan sebagainya, kelak hasilnya bisa digunakan untuk usaha yang lebih besar. Bisa juga dilakukan dengan membuat kerajinan-kerajinan sederhana yang layak dujual. Ketika menjual hasil usahanya itu, sesekali anak juga perlu diajak dalam proses penjualan dan pemasarannya.
Dalam konteks ini, orang tua juga membantu mendisiplinkan anak, mengatur waktu, kira-kira kapan harus bermain, belajar, dan praktek berwirausaha. Sebab, melalui pendisiplinan ini akan menjadi kebiasaan. Namun, dalam memberikan pendidikan ini, orang tua tidak boleh menuntut banyak, namun hanya memotivasi dan menginspirasi.
Dengan begitu, diharapkan kelak kalau sudah berusia muda, mempunyai bekal dalam berwirausaha secara mandiri, sehingga benar-benar bisa menjadi aset bangsa, bukan beban bangsa, karena nasib bangsa ini ada pada tangan pemuda. Seperti kata Bung Karno, “Berilah aku sepuluh pemuda, maka saya akan mengubah dunia,” kataya. Maka, wahai pemuda, bergeraklah !!!
Amin Fauzi,
Penulis adalah jurnalis Koran Sindo di Semarang

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pemuda, Bergeraklah !!!"

Post a Comment