Kisah di Balik Penambangan Sumur Minyak Tua

Blora, Bekanews.com - Di tengah hutan milik Perhutani yang masuk wilayah KPH Cepu, BKPH Wonogadung, tepatnya dipetak 7006. Di sana, puluhan sumur-sumur minyak tua dari ratusan sumur minyak tua berada.
Pada suatu siang yang sangat terik, sekelompok pekerja di sumur minyak tua itu sedang beristirahat. Wajah-wajah lelah tak bisa disembunyikan dari rauyt muka yang masih merah hitam. Beberapa di antaranya, bahkan masih bermandikan peluh.
Pada sumur-sumur minyak tua yang masuk di Desa Bangoan, Kecamatan Jiken, Blora, yang terletak lebih dari 20 km dari pusat kota itu, nampak berhias bambu-bambu yang digunakan sebagai salah satu peranti (alat) untuk melakukan penambangan.
Bambu-bambu yang menjulang itu, ditambah lagi dengan berbagai mesin sederhana, yang digunakan oleh sekelompok penambang 'harta karun' itu untuk memudahkan kerja mereka.
Suwoto, mandor para penambang di Bangoan, mengatakan, di wilayah Bangoan ada 27 sumur minyak tua. "Namun yang tiga merupakan sumber gas, sehingga kami kembalikan ke Pertamina," terangnya.
Untuk penambang, setiap sumur biasanya dikerjakan oleh 30 orang. "Hasil minyaknya kita kirim ke Pertamina Cepu, melalui Koperasi Unit Desa (KUD) Wargo Tani Makmur, Jiken," ungkapnya.
Nuansa Mistis
Namun, tidak mudah ternyata melakukan penambangan minyak di sumur-sumur minyak tua. Ada nuansa mistis yang melingkupi dibalik kerja-kerja penambangan minyak di situ. "Pekerja harus guyub, rukun, dan legawa. Tidak boleh ada pertengkaran. Kalau itu terjadi, minyaknya tidak akan keluar," terang Saelan, warga RT 3 RW 1 Desa Bangoan, yang tinggal tak jauh dari tempat penambangan.
Maryono diamini Dasri mengutarakan hal senada. Dua pemuda desa tersebut yang sekaligus bekerja di tambang sumur tua sejak satu setengah tahun terakhir. "Leres, mas. Janji ora guyub, rak mboten medal minyake. (Benar. Kalau tidak rukun dan bersatu, jangan harap minyak bisa keluar)," ujarnya.
Namun bagi Suwoto, nuansa mistis yang melingkupi cerita dibalik penambangan minyak di sumur minyak tua Blora, itu memiliki pesan yang baik. "Ini justru mengajak kepada kebaikan dan kerukunan," katanya.
Tetapi menurutnya, tidak hanya di Desa Bangoan saja, nilai mistis itu lahir. "Tidak cuma di sini. Di sumur minyak tua yang ada, juga mengalami hal yang sama. Kalau tidak rukun dan guyub, maka minyaknya tidak keluar. Jadi seperti ada penunggunya. Paling-paling, yang keluar cuma air," tambahnya.
Karnadi, tokoh sepuh desa kelahiran 1921 yang ikut menambang pada era 1964 - 1965, juga membenarkan cerita itu. "Yen ora guyub ora metu, artine wong mergawe iku yen ora guyub hasile yo sitik. (Orang bekerja kalau tidak bersatu, rukun, hasilnya ya sedikit," ungkapnya.
Maka, apabila dalam suatu sumur yang sedang berproduksi minyak tidak keluar, maka para pekerja pun kemudian berintrospeksi dan bermusyawarah. Musyawarah itu untuk membicarakan persoalan apa yang terjadi sehingga minyak tidak keluar. "Kalau sudah ketemu jawabannya, maka kemudian kita akan melakukan selamatan. Terkadang, dalam satu sumur, bisa dilakukan selamatan sampai 10 kali," terang Suwoto.
Selametan pun, kita tidak bisa asal mengundang kiai. "Yang berdoa harus orang pinter (Dukun) Jawa. Pernah ada sumur yang selametan mengundang kiai, minyaknya malah tidak keluar. Akhirnya, sampai sekarang, kalau selametan tetap harus mengundang dukun Jawa. Intinya, meminta kepada Tuhan (Allah Swt), cuma melalui perantara (wasilah)," tutur Suwito. (irs)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kisah di Balik Penambangan Sumur Minyak Tua "

Post a Comment