BEBAS

Joko Tri Haryanto
Kolumnis adalah peneliti Litbang Kemenag Semarang

“Aku seorang yang bebas, maka aku bebas untuk menjitak kepalamu,” kata kakak. Sang adiknya membalas, “Kalau begitu aku pun bebas untuk memukul kepalamu dengan palu!”
Beginilah jadinya dunia kita, kacau balau, runyam, penuh intrik dan dendam. Dunia yang menurut persangkaan kita memberi kebebasan untuk berbuat semau gue. Bebas yang kita pahami adalah kelonggaran berbuat sesuka hati, tanpa batas, tanpa aturan.
Kebebasan adalah suatu paradoks, karena sesungguhnya tak ada yang benar-benar bebas bagi manusia di dunia ini. Kalaupun ada, saya nggak yakin itu manusia!
Kebebasan adalah suatu harga negosiasi dengan keterbelengguan sosial. Kita hidup sebagai manusia merdeka di negeri yang merdeka, tetapi kemerdekaan kita dibatasi oleh kemerdekaan orang lain juga. Jika kita merasa berhak melanggar hak orang lain lain, maka orang lainpun pasti merasa berhak untuk melanggar hak kita.
Setiap kebebasan kita selalu bersinggungan dengan kebebasan orang lain. Pada banyak hal, apa yang menjadi hak orang lain adalah tanggung jawab bagi yang lainnya lagi, dan sebaliknya. Kebebasan tanpa penghormatan dan penghargaan terhadap pihak lain, hanya akan melahirkan persinggungan, kekacauan, dan kerusakan.
Hidup ini harus ada kesediaan untuk berkompromi, toleransi, dan menghargai untuk membangun dunia yang damai, aman, tentram dan membahagiakan semua orang. Kebebasan diperlukan untuk membangun semua itu. Tanpa menjadi negara merdeka,  Indonesia tidak akan dapat melakukan pembangunan dan menyejahterakan rakyatnya.
Tanpa kebebasan berpendapat, kita tak akan pernah mengetahui kebenaran. Tanpa kebebasan berfikir, kita tak ubahnya seperti binatang ternak. Tanpa kebebasan kita tak punya kesempatan untuk berbuat apa-apa.
Maka kebebasan bukanlah sikap semau gue. Kebebasan bukan jalan untuk merusak, menista, menindas, korup, dan sewenang-wenang. Inilah jalan satu-satunya dari Tuhan untuk kita berbuat kebaikan, memuliakan kemanusiaan, memayu hayuning bawana, menjadi rahmatan lil ‘alamin.
Kebebasan dan tanggung jawab adalah suatu tautologi, dua sisi mata uang. Setiap kebebasan menuntut pertanggung jawaban. Setiap tanggung jawab memerlukan kebebasan untuk mewujudkannya.
Pemimpin (bisa presiden, rektor atau dekan, atau apa saja) bebas untuk mengambil kebijakan yang dapat meningkatkan kualitas, menyejahterakan dan melindungi yang dipimpinnya, bukan bebas untuk korupsi, menindas dan menyengsarakan.
Guru dan dosen butuh kebebasan untuk mengembangkan ilmu, mengajarkan pengetahuan dan moralitas kepada anak didiknya. Mahasiswa bebas untuk kuliah, bukan berarti boleh kuliah sesukanya, bebas beraktivitas di kampus bukan berarti boleh kemproh, tidak disiplin dan melangar tatakrama. Setiap kita memiliki kebebasan, bebas  meningkatkan kualitas kemanusiaan kita, bukan menistakan harkat diri ke lembah kebodohan, kemesuman dan kehancuran.
Media massa dilindungi oleh kebebasan pers, dimaksudkan agar media massa dapat bebas untuk menyempaikan kebenaran, membangun pendidikan dan moral, melakukan kritik dan kontrol sosial.
Kebebasan pers bukan berarti bebas untuk menghina dan menistakan manusia atau sebagian umat yang lain. Kebebasan berekspresi tidak lantas diterjemahkan boleh pornoaksi dan pornografi.
Masih ingat dengan Jyllands Polland yang memuat gambar apa saja, tetapi hak umat Islam menjaga kemuliaan Nabinya juga harus dihormati!  Media massa boleh memuat dan menayangkan gambar dan adegan apa saja, tetapi juga harus menimbangkan hak anak-anak dan remaja untuk memelihara moralitas dan kepribadiannya.
Politikus bebas merekayasa keadaan negara menjadi semakin aman tentram dan adil makmur, bukan malah membuat aturan main yang membingungkan, memecah belah, menipu dan membodohi rakyat.
Para ekonom dan pengusaha bebas untuk mencari laba, tetapi tidak boleh dengan cara merugikan orang lain, petani pedagang kecil dan rakyat miskin. Ilmu ekonomi tidak untuk menipu, tetapi untuk membangun kesejahteraan bersama.
Oleh karena yang menggunakan kebebasan semau gue adalah binatang. Entah binatang ekonomi, binatang politik, binatang intelektual, binatang birokrasi dan binatang yang lainnya. Mari kita sepakat saja, mereka yang menggunakan kebebasan semau gue adalah : binatang!
***
Allah Maha Berkehendak, karena itu Allah memiliki kebebasan untuk berbuat. Namun perbuatan Allah berbeda dengan berbuatan manusia, perbuatan Allah suci dari kekurangan dan kecacatan. Kerusakan, kekacauan, ketidakadilan, kesewenang-wenangan, dan semua perilaku yang kita pandang buruk  adalah kekurangan maka Mahasuci Alah dari semua itu.
Manusia diciptakan oleh Allah sebagai citra  diri-Nya. Oleh karena itu manusia menjadi manifestasi Allah di bumi dengan potensi ketuhanan. Allahlah yang menganugerahi manusia dengan akal pikiran, kehendak dan kekuatan untuk bebas berbuat.
Namun sebagai citra diri, Allah menghendaki manusia yang kamil, sebagus diri-Nya. Karena itu kebebasan manusia adalah untuk memilih jalan yang benar, jalan keimanan, dan jalan ketakwaan, bukan jalan yang mungkar, fasik, dan fujur.
Pada saatnya nanti, satu lagi pertanyaan kubur bagi kita, “Kebebasan yang dianugerahkan, kau gunakan untuk apa?” Nah!

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "BEBAS"

Post a Comment