Abadikan Potensi Lokal dalam Kreasi Batik

Kabupaten Kudus menyandang berbagai predikat. Dikenal sebagai Kota Kretek lantaran banyak berdiri industri rokok kretek, Kota Jenang dengan keberadaan industri jenang, dan dikenal pula dengan Kota Lentog berkat kuliner khas Lentog Tanjung.
Itu hanya beberapa predikat yang bisa disebut. Sebab, masih ada lagi beberapa predikat lain yang juga cukup populer. Antara lain Kota Santri karena banyak berdiri pondok pesantren dan juga Kota Wali, dikarenakan ada dua dari sembilan waliyyullah di Jawa yang masyhur: Sunan Muria dan Sunan Kudus.
Bagi Ummu Asiyati, salah satu pengusaha yang mempopulerkan batik Kudus ke ranah nasional dan internasional, berbagai predikat yang berangkat dari potensi yang dimiliki Kota Kudus, tidak menempati ruang hampa dan tanpa arti.
Di tangan istri Fathurahman itu, berbagai potensi yang dimiliki Kota Kudus, menginspirasinya mengabadikannya dalam sebuah kreasi batik yang sangat beragam. hasilnya, puluhan karya batik lahir dari berbagai potensi itu.
Berbagai karya batik tersebut, antara lain Batik Kretek, Rokok Kretek, Kawung Kretek, Lentog Tanjung, Montel Muria, Parijoto Muria, Gula Tumbu, Satwa Laut, Rentesan, Sekar Jagad, Rumah Adat, Menara Kudus, Kawung Menara, Jenang Kudus, Romo Kembang, dan Omah Kembar.
Memang secara umum, Kudus tidak sepopuler Solo, Yogyakarta, Pekalongan, maupun Lasem (Rembang), di dunia perbatikan nusantara. Namun kota ini tak bisa dipisahkan dari realitas sejarah perbatikan nasional.
‘’Kudus sudah dikenal memiliki batik sejak dulu. Hanya saja, pada masa-masa selanjutnya, kurang berkembang karena tidak ada regenerasi,’’ terang pemilik galeri Alfa Batik Kudus di Desa Gribig, Kecamatan Gebog, itu. ‘’Pembatik Kudus dulu ada di sekitar Demaan dan Sunggingan,’’ lanjutnya menambahkan.
Ummu Asiyati terbilang belum lama berkecimpung di bisnis batik, yakni pada 2008. Sebelumnya, pada 1991, ia membuka toko Shofa Bordir dengan pertimbangan toko bordir lebih populer di masyarakat.
Mulai awal 2008 itulah, setelah ia mengikuti berbagai pelatihan dan pendidikan membatik di berbagai kota, yakni di Pekalongan, Semarang, Yogyakarta, Cirebon, dan Bandung, ia akhirnya tergerak terjun di bisnis batik. ‘’Dulu saya tidak bisa apa-apa. Saya belajar membatik dari nol,’’ ujarnya. (nra)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Abadikan Potensi Lokal dalam Kreasi Batik "

Post a Comment