Potret Pemikiran Santri

Judul Buku         : Santri Membaca Zaman
Penulis                : Nur Said, dkk.
Cetakan              : I, 2016
Tebal                  : 312 Halaman
Penerbit              : Aswaja Pressindo
ISBN                  : 978-602-6791-93-1

Belum berselang lama, para santri lulusan madrasah Tasywiquth Thullab Salafiyyah (TBS) Kudus, menerbitkan buku berjudul ‘’Santri Membaca Zaman: Percikan Pemikiran Kaum Pesantren’’, yang merupakah salah satu ikhtiar dan potret pemikiran santri di Kota Kretek.
Lahirnya buku ini cukup menarik, jika menilik sejarah panjang kontribusi kaum sarungan dalam merebut kemerdekaan dan membangun bangsa ini. Tak heran, jika santri dengan pondok pesantren sebagai lembaga yang mendidiknya, digadang sebagai pilar pendidikan karakter dan internalisasi nilai-nilai luhur bagi generasi bangsa.
Ada beberapa nilai menarik yang bisa digali dari keberadaan santri melalui buku  ini. Pertama; etika dan estetika. Seorang santri di masa depan, akan menjalani titahnya untuk ngemong masyarakat. Sehingga, moral dan pemahaman keagamaaan yang mapan, mutlak diperlukan.
Untuk itu, lingkungan pesantren menjadi tempat strategis memahami nilai dan ajaran agama secara kaffah (komprehensif), dan ilmu yang diajarkan di pesantren, mampu ‘mengendap’ dalam pribadi masing-masing santri yang dibarengi dengan keteladanan figur sang kiai.
Kedua; nasionalisme dan toleransi. Kehidupan yang jauh dari rumah, memungkinkan seorang santri untuk rindu dengan tanah kelahirannya. Semakin membuncah rindu itu, dijadikannya sebagai pemupuk semangat menuntut ilmu. Mengaji, berdiskusi, membaur dengan santri lain, menjadi sarana belajar bermasyarakat, sehingga kelak ketika boyong (lulus) dari pesantren, bisa bermanfaat bagi masyarakat dan daerahnya, dengan menjunjung tinggi kebijaksanaan dan toleran.
Ketiga; kemandirian ekonomi dan tingginya etos kerja. Jauh dari rumah dan orang tua, membuat santri terbiasa hidup mandiri. Meski terkadang pahit, santri menjalankan itu sebagai suatu ujian, yang pada gilirannya menumbuhkan etos kerja yang kuat. 
Pelajaran menarik dari spirit ketiga ini, bahwa santri disiapkan untuk hidup menanggung beban, utamanya beban umat. Yaitu beban tentang kesejahteraan, keadilan, ketentraman serta kebenaran beragama yang bermuara pada kemashlahatan. Mereka adalah orang-orang yang sadar sejak awal, akan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi. (*)
Muhammad Farid,
Penulis adalah alumnus Pondok Pesantren Miftahul Falah dan bergiat di Paradigma Institute. 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Potret Pemikiran Santri "

Post a Comment