Memotret Keteladanan Gus Dur

KUDUS – Kecintaan dan kerinduan akan sosok KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam diri warga nahdliyyin, memang sangat besar. Tak heran, jika menjelang haulnya, banyak pihak yang menggelar berbagai kegiatan untuk mengenang sosok yang wafat pada 30 Desember 2009 lalu itu.
Salah satunya adalah diskusi dan bedah buku yang diselenggarakan oleh warga Nahdlatul Ulama (NU) di Kecamatan Gebog, Kudus. Minggu sore (18/12/2016), bertempat di Aula MA NU. Nurussalam, diskusi dan bedah novel biografi Gus Dur, digelar.
Acara ini dihadiri langsung sang penulis buku, Aguk Irawan MN. Sedang sebagai pembedah, yaitu KH. Asyrofi Masyito (ketua Lakpesdam Kudus) dan Dr. KH. Ahmad Faiz LC. MA. (mantan Rois Syuriyah PCINU Turki). Diskusi dan bedah buku dipandu oleh Rosidi (staf Humas Universitas Muria Kudus/ UMK).
Dalam kesempatan itu, Agus menyampaikan banyak keteladanan Gus Dur. Menurutnya, Gus Dur tidak sekadar intelektual NU yang suka melakukan pengembaraan untuk mencari ilmu semasa muda, namun mantan Presiden RI itu juga sosok yang sangat romantis.
Sikap romantis Gus Dur itu, mewujud dengan seringnya ia mengirim surat cinta kepada Sinta Nuriyah, baik sebelum maupun sesudah menjadi istrinya. ‘’Menariknya, saat berkirim surat, selalu disertai buku dan bunga,’’ kisahnya seeprti dilansir umk.ac.id.
Tak hanya itu, Gus Dur yang dikenal kontroversial dan memiliki banyak joke, ini juga sangat menghormati perempuan. Hampir semua pekerjaan rumah tangga dia kerjakan sendiri, seperti mencuci piring, mencuci, dan memasak.
Suatu ketika, Sinta Nuriyah, meminta kepada Gus Dur agar mengizinkannya memasak, paling tidak jika ada tamu-tamu datang ke rumah. Namun Gus Dur mengatakan, bahwa seorang laki-laki mencuci piring bahkan memasak, toh bukan pekerjaan jelek.
‘’Jadi Bu Sinta itu lebih banyak membikinkan teh untuk Gus Dur. Ini bentuk tanggung jawab dan keteladanan Gus Dur dalam memuliakan perempuan. Ini teladan bagus bagi para laki-laki, suami dan kita semua,” terang Aguk.
KH. Asyrofi dalam bedah buku itu, menyampaikan pengalamannya saat bersua dan silaturrahim dengan Gus Dur. Dia sependapat dengan Aguk, bahwa selain cerdas dan romasntis, ia juga tokoh yang dicintai banyak orang, sehingga banyak penulis yang mengangkat sisi-sisi kehidupannya dalam sebuah buku.
“Karena cintanya kepada Gus Dur, banyak orang yang kemudian menulis sesuatu tentangnya. Maka tak heran jika kita temui banyak sekali karya-karya tentang Gus Dur. Memang luar biasa,” katanya. ‘’Sikap dan nilai yang diusung Gus Dur, itu memanusiakan manusia,’’ lanjutnya menambahkan.
Dr. KH. Ahmad Faiz LC. MA., mengaku kagum terhadap Gus Dur, karena merangkul manusia-manusia di seluruh Dunia. Itu ditunjukkan dengan silaturahmi yang dibangun tidak hanya dengan umat Islam, tetapi juga dengan umat dari agama lain di dunia. ‘’Ia juga belajar dengan banyak tokoh, termasuk tokoh komunis sewaktu belajar di Yogyakarta,’’ urainya. (BNC-01)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Memotret Keteladanan Gus Dur"

Post a Comment