Menyoal Artis dan Narkoba

Pada suatu ketika, kehidupan selebritas atau artis sering diidentikkan dengan perilaku yang tak layak dicontoh. Misalnya, pergaulan bebas, kecanduan alkohol, dan penyalahgunaan narkotika.
Hingga saat ini, perilaku negatif sebagian figur publik itu ternyata belum benar-benar hilang. Kasus yang terbaru adalah penyanyi Reza Artamevia dan Ketua Umum Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) Gatot Brajamusti serta enam orang lainnya  yang ditangkap di sebuah kamar hotel di Mataram, Minggu (28/8).
Berdasarkan fakta diatas, menegaskan ”perang” melawan kejahatan-kejahatan luar biasa, akhirnya memang bukan sikap yang berlebihan. Satu di antara kriminalitas besar itu adalah kejahatan narkotika dan obat-obatan terlarang. Ketika Badan Narkotika Nasional (BNN) mengungkap peredaran 800 kilogram sabu-sabu senilai Rp 1,6 triliun di Jakarta Barat, awal Januari lalu, kesadaran kita kembali disegarkan betapa Indonesia menjadi target pasar subur jaringan narkoba internasional.
Tak layak lagi, dengan berbagai argumentasi hukum dan kemanusiaan, kita memberi ruang toleransi kepada lingkar kejahatan ini. Bayangkanlah, sabu-sabu sebanyak itu beredar di tengah masyarakat, dengan pasar yang tentu sudah diperkirakan. Apa yang akan terjadi dengan generasi muda kita kedepan?
Bisa diambil kesimpulan, dari gambaran penyitaan oleh BNN itu, sindikat internasional yang mengirim tahu betul Indonesia merupakan pasar potensial sabu-sabu. Yang terus berlangsung bukan lagi tengara, melainkan sudah merupakan realitas. Bukti bahwa sejumlah terpidana kasus narkoba masih bisa mengendalikan bisnisnya dari balik penjara, menunjukkan kekuatan jaringan kejahatan ini.
 Kenyataan tersebut seharusnya juga menguatkan mindset: tidak perlu ada justifikasi apa pun yang bisa melemahkan penegakan hukum. Tema utama ”perang” itu adalah penyelamatan masa depan angkatan muda kita. Otoritas hukum dan kepemimpinan nasional harus berani mengabaikan remisi, grasi, serta vonis-vonis yang tidak membuat jera.
Kita harus lebih melihat ke depan, memperkuat filter pengaman dari sisi kelembagaan dan penegakan hukum sebagai pembendung. Kesamaan sikap jelas dibutuhkan, karena yang kita hadapi jelas-jelas kondisi darurat narkoba. Jaringan internasional, seperti aksi kiriman barang dari Guangzhou itu, telah mengacak-acak Indonesia.
Penanganan kasus-kasus narkoba, dari yang kelas teri hingga yang kakap, menyuarakan pesan sama; yakni semua potensi sulur distribusi dan penggunanya bisa ke mana saja, di mana saja, dan oleh siapa saja. Sedangkan sumber besar pengadaan barang berjejaring dengan sindikat internasional, yang dikirim dengan berbagai modus penyelundupan maupun diproduksi di sejumlah tempat di Tanah Air.
Faktor Lingkungan
Narkoba  memang bisa menjerat siapa saja tak peduli yang miskin sampai kaya, dari orang biasa sampai artispun bisa menjadi pecandu barang haram itu. Semua orang yang tidak membentengi diri dengan baik akan mudah terjerat dan menjadi pecandu narkoba. Setidaknya faktor lingkungan adalah salah satu penyebab utama seseorang memakai narkoba. Lingkungan selebritas sangat rawan dengan penggunaan narkoba.
Euphoria kesuksesan karier kadang kala membuat mereka menjadi lupa, sehingga kehidupan malam menjadi kehidupannya selepas penat bekerja. Di saat tenar, banyak uang untuk dihambur-hamburkan. Sebaliknya depresi takut miskin sering juga menyebabkan seorang artis berusaha melarikan diri dari kenyataan dengan mengkonsumsi narkotika.
Perilaku hedonis dan pergaulan bebas ditambah moral serta keimanan yang rapuh menjadi faktor terbesar penyebab artis terjerat narkoba. Bahkan, ada anggapan kalau tidak memakai narkoba itu bukan artis terkenal namanya. Artis dan narkoba pun menjadi sebuah keniscayaaan. Inilah persoalan sangat mendasar ke depannya yang akan meruntuhkan masa depan bangsa.
Tersangkutnya para artis dalam kasus narkoba menunjukkan betapa masifnya ancaman narkoba terhadap bangsa ini. Penyebarannya pun lintas kelas dan lintas profesi. Indonesia  dalam kondisi darurat narkoba. Indonesia termasuk dalam jajaran lima besar dunia dan lahan menggiurkan untuk bisnis narkoba.
Peredaran narkoba di Indonesia masih masif terjadi karena produsen, bandar, pengedar, maupun pengecer masih melihat terbukanya peluang melakukan transaksi dengan konsumen yang sangat besar. Diskotek dan tempat hiburan malam di Jakarta atau kota besar lainnya secara kasat mata telah menjadi supermarket bagi siapa pun untuk membeli dan menikmati narkoba.
Lemahnya proses penegakan hukum secara psikologis dapat memberi motivasi dan kesempatan bagi para pengedar dan produsen narkoba untuk membentuk kartel yang kekuasaannya jauh di atas pemerintah dan aparat. Dengan senjata dan jaringannya, mereka pun bisa melumpuhkan pemerintah dan mempermainkan aparat.
Narkoba sangat berbahaya dan bisa mengganggu masa depan bangsa. Karena itu, penegakan hukum harus tegas dan memberi efek jera. Politik hukum terhadap pemberantasan narkoba harus jelas, demi mereduksi sekecil mungkin bahaya narkoba.
Jangan ada sikap toleran, ketika radar kesadaran kita sebagai bangsa terusik oleh realitas bisnis narkoba yang benar-benar mengancam dan merusak sendi-sendi masa depan kehidupan. Filosofi pemidanaan memang bukan pembalasan dendam, namun sekali lagi kita lebih melihat semua konteks persoalan ini dari ikhtiar penyelamatan anak bangsa.
”Perang” kita jadikan sikap, seperti yang juga digaungkan dalam pemberantasan korupsi dan terorisme. Maka, dalam konteks kasus penyalahgunaan narkotika yang menjerat para selebritas negeri ini tentu sangat disayangkan. Namun terlepas dari itu semua, kita tentu harus mengingat kontribusi besar keduanya terhadap kemajuan industri musik Tanah Air. (MN. Haris)

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Menyoal Artis dan Narkoba "