Sejarawan Harus Mampu Bedakan Fakta dan Mitos

Semarang, Bekanews.com - Selama ini pembacaan tentang historiografi Indonesia seringkali dipenuhi kepentingan politik penulis di dalam penyusunannya, khususnya periode sebelum Indonesia merdeka. Selain itu, pencampuradukan peristiwa, seperti menyamakan mitos dengan fakta tak jarang dilakukan oleh sejarawan non Indonesianis.
Demikian disampaikan Ketua Lesbumi NU Agus Sunyoto dalam “Ngaji Sejarah Bareng KMNU Semarang” di Pondok Pesantren Annasimiyyah Pusponjolo, Semarang Sabtu malam (27/8/2016) lalu.
Agus Sunyoto mencontohkan, kisah Sunan Kalijaga bertemu Sunan Bonang kemudian disuruh menjaga tongkat, duduk di pinggir kali selama 15 tahun hingga keluar lumut dan semak belukar. Oleh para sejarawan hal itu dianggap tidak masuk akal.
Dalam kisah lain, lanjut penulis Suluk Abdul Jalil, Ken Arok yang bersumber dari naskah Pararaton yang ditulis tahun 1920, di mana Ken Arok digambarkan berkarakter sangat negatif seperti merebut istri orang, membunuh Empu Gandring, termasuk kisah kematiannya yang tewas dibunuh saat makan di singgasana.
‘’Ini bertolak belakang dengan keterangan Prasasti Mula Malurung yang mengisahkan Ken Arok meninggal di atas singgasana, tidak terbunuh, dan tidak sedang makan. Dua kisah di atas dapat dilihat mana yang masuk akal dan mana yang tidak. Seorang Nabi yang mempunyai mukjizat saja bisa pingsan setelah 40 hari karena tidak makan, bagaimana dengan manusia biasa, mungkinkah bisa duduk selama 15 tahun?” terangnya.
Menurut pengasuh Pesantren Global Tarbiyyatul Arifin Malang itu, persoalan lainnya dalam historiografi adalah adanya pencampuradukan peristiwa satu dengan yang lain. Misalnya penggambaran pasukan Majapahit dipimpin Patih Gadjah Mada saat menyerang Sunan Giri. Padahal Sunan Giri dan Gadjah Mada hidup pada zaman berbeda. Selisih masa hidup keduanya hampir seratus tahun.
Hal-hal semacam ini, menurut Agus Sunyoto, tentu saja mengacaukan dan membingungkan. Oleh karena itu, penulis buku Atlas Walisongo ini mengingatkan agar jeli dan kritis dalam membaca buku-buku sejarah yang beredar. Sejarawan harus mampu memisahkan antara fakta dan mitos.
Diskusi yang diselenggarakan Forum Silaturahim Kader Muda Nahdlotul Ulama (KMNU) Kota Semarang tersebut dihadiri puluhan kader. Antara lain Rois Syuriah PWNU Jateng KH. Hanif Ismail, Ketua DPD KNPI Kota Semarang Choirul Awaludin, Ketua PC Fatayat Kota Semarang Lulu Idzharotun, Ketua IPNU Kota Semarang Shihabul Khoir, dan Ketua PC PMII Kota Semarang Muhammad Zuhri.
Muhammad Sholeh seorang mahasiswa asal Grobogan, mengatakan dengan mengikuti acara ini jadi melek sejarah, tahu sejarah yang sebenarnya. Baginya, paparan Agus Sunyoto belum selesai dan belum memuaskan, justru muncul pertanyaan baru yang perlu dikejar pada diskusi selanjutnya. (BNC-02)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Sejarawan Harus Mampu Bedakan Fakta dan Mitos"

Post a Comment