Dialektika Islam dan Tradisi Lokal

Judul    : Agama Nelayan, Pergumulan Islam dengan Budaya Lokal
Penulis : Dr. Arifuddin Ismail.
Penerbit: Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Tahun   : Cetakan I, Juni 2012
Tebal    : xvi+ 242 halaman
ISBN    : 978-602-229-094-0

Mengungkap persoalan keberagamaan dalam masyarakat nelayan tradisional pada dasarnya adalah membicarakan cumulative body of knowledge nelayan dalam konteks kehidupan lokal. Secara kategoris, kehidupan komunitas nelayan berbeda dengan kehidupan komunitas masyarakat lainnya; masyarakat petani atau pedagang urban.
Perbedaan itu, terlihat tidak hanya terletak pada gaya hidup dan pola pikir, tetapi juga pada nilai-nilai kebudayaan mereka (Quote). Cunha (1997) mengatakan bahwa kelahiran pengetahuan tradisional nelayan banyak didasari karakteristik konteks fisik lautan yang mengelilinginya.
Pengetahuan ini, diproduksi secara kultural dan diakumulasi melalui pengalaman dan terus menerus dievalusi dan diciptakan kembali berdasarkan fitur lingkungan laut yang bergerak dan unpredictable (Baidawi, 2009:1).
Oleh karena itu, wajar jika realitas keyakinan masyakarat nelayan bergantung kepada laut, misalnya, konsepsi tentang adanya kekuatan luar biasa pada laut yang tidak bisa lepas dari kehidupan masyarakat nelayan di negeri ini. Praktik keberagamaan tertentu yang erat kaitannya dengan masyarakat nelayan terjadi hampir di setiap masyarakat.
Namun, sejak berlangsungnya proses penyebaran dan pelembagaan Islam, sebagian besar masyarakat nelayan memeluk Islam. Akan tetapi, apakah komitmen religius mereka murni berlandaskan Islam? Lalu bagaimanakah mereka mengkonstruksi pengalaman sosio-kultural mereka dengan kondisi kehidupan yang dekat dengan laut?
Buku ini, membeberkan kehidupan spiritual nelayan Mandar yang berbeda dari nelayan di wilayah lain. Untuk mendapatkan berkah mereka melakukan sebuah ritual dari perpaduan antara agama dan budaya. Misalnya, ritual konstruksi yang dilakukan saat pembuatan perahu hingga siap  diturunkan ke laut.  Lalu, ada ritual yang dilakukan sebelum melaut pula. Terakhir, ritual distribusi berupa upacara syukuran hasil tangkapan dan syukuran awal bulan ramadan.
Ritual-ritual tradisi semacam itu, telah diwariskan turun temurun dari leluhur, seperti pesta laut atau Nadran, membakar kemenyan sebelum melaut, menggunakan jimat-jimat tertentu untuk menguatkan fisik dan sebagainya merupakan beberapa tradisi lokal yang diyakini oleh para nelayan mampu menambah berkah (hlm 25). Mereka juga memercayai bahwa ada suatu kekuatan gaib yang tidak terjelaskan oleh akal, tidak mampu mereka visualisasikan, tapi mereka sungguh-sungguh meyakininya dalam hati.
Jika melihat kajian yang dilakukan oleh para ahli, tampak adanya tipologi kajian Islam dalam konteks lokal, yang dikategorikan sebagai kajian yang memandang hubungan antara tradisi Islam dan lokal bercorak sinkretik dan bercorak akulturatif. Kajian yang dilakukan oleh Geertz misalnya adalah termasuk kajian yang bercorak Islam sinkretik. Sementara itu, beberapa ahli lainnya, seperti Hefner, Woodward, Muhaimin, Budiwanti, dan Hilmy mengkaji tentang Islam akulturatif (Syam, 2005:2).
Namun, kedua tipologi tersebut baru sebatas menjelaskan tradisi Islam lokal masyarakat pedalaman atau pegunungan, sementara masyarakat pesisir belum dijelaskan. Selain itu, para ahli hanya mengambil daerah Jawa sebagai objek penelitiannya. Berdasarkan kenyataan di atas, Arifuddin Ismail tampaknya mencoba menarik benang merah dari kedua tipologi tersebut. Akan tetapi, dari literatur-literatur penelitian yang ada dalam buku ini, lebih banyak menggunakan teori Berger tentang konstruksi sosial dalam melihat keberagamaan nelayan.
Baginya, akhir penelitian haruslah berupa pemberdayaan. Oleh karena itu, untuk menemukan alternatif pemberdayaan bagi masyarakat nelayan Arifuddin meneliti mereka dari aspek komitmen. Selain itu, studi kasus yang dilakukan bukan di daerah pedalaman Jawa, melainkan daerah pesisir Pambusuang Mandar Sulawesi.
Dalam konteks keberagamaan masyarakat pesisir Mandar, tidak berbeda jauh dengan Jawa, terdapat tataran yang memang dianggap sebagai “sinkretisme”. Menyadari fenomena yang ada, tampak bahwa ada gejala penguatan terhadap praktik penyelenggaraan tradisi lokal, seirama dengan semakin intensifnya gerakan pemurnian Islam, fundamentalisme, dan pengembangan Islam dewasa ini (hal 75-100).
Dengan demikian, Nelayan Mandar adalah potret masyarakat yang mampu menerima modernitas tanpa kehilangan tradisionalitasnya. Penerimaan secara terbuka dengan modernitas tidak lantas menegasikan epistemologi spiritual lokal. Masyarakat lokal tetap memandang alam sebagai subjek yang mistis juga sakral dan berpengaruh kepada kehidupan mereka. Mereka menaati norma-norma agama dan selalu mengutamakan agama dalam melaksanakan aktifitas melaut.
Oleh karena itu, hendaknya para agen dakwah yang hadir tidak terjebak pada politik praktis karena karakteristik nelayan yang sinkretik lebih mudah percaya pada para tokoh agama yang mampu kompromi terhadap tradisi lokal.

Dengan memberikan sedekah, gotong royong, dan pendekatan personal lainnya, diharapkan bisa menjadi jembatan untuk memperbaiki akhlak para nelayan, sekaligus kelak meningkatkan pemberdayaannya melalui etos kerja sebagai efek dari komitmen religius yang kuat. (M. Nafiul Haris, staf redaksi website & Tabloid Info Muria Universitas Muria Kudus) 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Dialektika Islam dan Tradisi Lokal"

Post a Comment